17.12.06
22.11.06
Alter Ego
hening
hampa
...
si bocah berkerjap mata
haruskah ia muncul kembali
kenapa ia harus muncul kembali
si bocah mencari
bijak dimana?
riang kemana?
tekad mana?
si bocah pun tergugu
hanya jiwa yang menjawab
mereka lelah, nak
biarkan jeda sejenak
si bocah terisak
tapi kenapa aku yang dipanggil
jika mereka lelah?
pertanyaan tentang hidup
terkadang begitu berat, nak
hanya kau yang tanpa beban
bisa menghadapi hidup
aku kesepian
airmata si bocah menitik
menangislah, nak
sekedar mengingatkan ke-aku-an
bahwa kita hanya manusia
bahwa tubuh hanya fana
...
ketika bijak, riang, tekad telah kembali
si bocah sudah tidak ada
ia sedang dalam buaian, sahut jiwa
ayo, sekarang kalian kembali bekerja
hadapi hidup dengan semangat, ya
...
13.11.06
7.11.06
19.10.06
Semestinya Itu Saja
keluarga itu menepikan gerobaknya
sang suami menggelar plastik di trotoar
sekedar untuk tempat rebah sang istri dan bayi mereka
istirahat hari ini, besok berkelana lagi
hidup mungkin hanya putaran roda yang tersuruk bagi mereka
berputar berat dan l a m b a n
entah mengapa, kami bagai terpekur melihatnya
segala keluh kesah 'semestinya begini begitu' jadi tiada makna
semestinya kami bersyukur
itu saja
saya dan kawan akhirnya kasak-kusuk
maaf ya, maukah mereka disumbang?
sebaiknya dalam bentuk apa?
berapa nilai uang yang pantas?
tapi kebimbangan tak lama
sang suami menyambut uluran tangan kami
membungkuk dalam-dalam tanda syukur
maaf ya, merepotkan
mungkin seperti tersirat pada si gerobak tua
kami pun beranjak meninggalkan keluarga itu
tiada lain kecuali kesadaran dalam diri
karena semestinya kami bersyukur
itu saja
2.10.06
Ironis
pedagang tersenyum puas
stok habis
sehari bisa ludes dua kardus
ramadhan membawa berkah
pembeli tersenyum bahagia
pulang membawa hadiah
buat santapan rohani
ramadhan membawa hidayah
cd-vcd islami laku keras
semuanya bajakan
adakah berkah?
apakah hidayah?
26.9.06
Tentang Maaf
Kawan saya di Qatar menulis begini:
Ramadhan dan Lebaran menjadi momentum bagi kaum muslim untuk saling bermaafan. Tapi sudah budaya/kultur orang Indonesia lebih banyak MEMINTA dari pada MEMBERI, apalagi kalau ada yang GRATIS.
Mumpung ada email/milis/sms berlomba-lomba semua merilis ucapan maaf.
Coba dianalisa dua ucapan Ramadhan/Lebaran dari dua bangsa yang kulturnya berbeda:
Ucapan di Indonesia intinya MEMINTA: MOHON MAAF LAHIR BATIN
Ucapan di Qatar intinya MEMBERI: SETIAP TAHUN, SEMOGA ANDA DALAM KEADAAN BAIK*
Note:
*Kullu Am Wa Antum Bi Khair, diterjemahkan: Setiap tahun Anda/Sahabat semoga selalu baik
Tentu masih ingat sebuah hadist yang isinya: MEMINTALAH KAMU HANYA PADA ALLAH. Tentu masih ingat pepatah bijak yang menyatakan: MEMBERI lebih baik daripada MENERIMA.
Selanjutnya terserah mau pilih yang mana???
Bagi saya yang lebih mulia adalah selama masih ada masa datangilah rumah TETANGGA/TEMAN/SAUDARA dan SALING MEMBERI MAAF (bukan minta maaf). Atau setiap habis shalat berjama'ah saling MEMBERI MAAF (sekali lagi bukan MINTA MAAF).
Salam
Saya, kawannya di Indonesia, menulis begini:
Mungkin sudah kultur orang Indonesia untuk memposisikan diri sebagai orang yang humble, nrimo. Tekanan penjajah selama ratusan tahun tak pelak mendoktrin pemikiran orang Indonesia sebagai obyek yang diterangkan daripada subyek yang menerangkan.
Sekarang pun kita masih terjajah oleh kaum birokrat dan kapitalis. Tak ayal, ucapan 'aku memberi' terdengar lebih angkuh daripada 'aku meminta'. Orang Indonesia terbiasa menghambakan diri untuk menerima daripada menuankan diri untuk memberi. Dengan kata lain 'rendah hati', mungkin.
Saya pribadi lebih menghargai niat orang ybs daripada sekedar ucapan yang terlontar.
Akhirul kata, apapun ucapannya, minumnya teh botol sosro :)
Salam