Pandanglah
segelas air di hadapan. Apakah yang terlintas dalam benak? Adakah yang
terbersit walau sekilas, ataukah cuma hampa saja?
Sejak kecil
saya sudah tertarik dengan sejarah suatu benda, bahkan termasuk asal
muasal air yang saya minum. Tatkala saya haus dan kemudian ibu
menuangkan air dalam gelas, maka saya akan bertanya darimana air minum
berasal. Ibu akan bilang kalau air minum ini berasal dari air sumur
yang sudah dimasak. Air sumur datang darimana, tanya saya lagi. Dari
dalam tanah, kata ibu. Sebelum saya menjadi terlalu cerewet kemudian
beliau melanjutkan penjelasannya. Bahwasanya air dalam tanah berasal
dari hujan. Dan hujan berasal dari awan. Awan berasal dari penguapan
air di bumi. Uap air berasal dari lautan, sungai, pepohonan, dll. Dan
seterusnya, dan seterusnya, dimana kelak saya menyadari bahwa itulah
pemahaman dasar mengenai siklus air.
Tetapi sebenarnya bukan
sekedar siklus air tadi yang menjadi kepenasaranan saya. Beranjak
dewasa, ketertarikan saya akan sejarah suatu benda ternyata lebih
terdefinisi. Saya lebih tertarik mencari tahu pengalaman atau experience suatu benda ketimbang asal muasalnya.
Siklus
air adalah lingkaran yang tak putus. Seperti kita tahu, lingkaran tak
mempunyai ujung awal ataupun akhir. Konstan. Air adalah konstanta yang
sudah ada jauh sebelum cikal bakal kehidupan di bumi terbentuk. Selama
berjuta tahun sudah air bergerak dalam siklusnya. Ia memberkati bumi
dengan curah hujan. Lalu menghidupinya dengan nutrisi. Ia mengalami
penyulingan lewat proses penguapan atau evaporasi. Demikian terus
berulang dalam volume yang relatif sama. Dengan kata lain, air yang
kita minum sekarang adalah air yang sama dengan yang sudah ada sejak
awal penciptaan. Tidakkah hal itu menakjubkan?
Fakta inilah yang menggairahkan saya. Air adalah saksi kehidupan di bumi.
Tataplah
segelas air di hadapan. Benak anda kini pasti membayangkan
pengembaraan sang air. Sudah seberapa jauh ia berkelana dari masa ke
masa? Sudahkah ia turun di seluruh pelosok bumi? Siapa sajakah legenda
dunia yang pernah ia sapa dalam rinainya--ia basuh dalam basahnya--ia
segarkan dalam teguknya? Adakah ia menyimpan ingatan zaman purba dalam
molekul-molekulnya?
Kemudian dari sebuah selebaran di kedai vegetarian, saya mengenal pula istilah water footprint alias jejak air. Water footprint kadang disebut pula virtual water,
ialah jumlah air yang digunakan dalam keseluruhan produksi dan/atau
pertumbuhan suatu produk. Sebagai contoh, 1 kg daging sapi mempunyai
jejak air sebanyak 16 ribu liter. Jumlah air sebanyak itulah yang telah
digunakan untuk membesarkan, merawat, memberi makan si sapi hingga
akhirnya dikirim ke rumah jagal untuk dijadikan daging siap santap
seberat 1 kg. Padahal seekor sapi utuh bisa menghasilkan daging hingga
ratusan kg. Jadi hitung sendiri berapa total jejak air yang dibutuhkan
(belum ditambah dengan jejak karbon yang dilepaskan di udara).
Selebaran
yang saya baca ini sungguh menyampaikan informasinya secara cerdas
bernas. Tujuannya tidak memprovokasi orang supaya beralih menjadi
vegetarian, namun lebih mengusik kesadaran pembaca untuk bertindak lebih
bijak. Makanlah dalam porsi cukup agar tiada yang tersisa, supaya
jejak air yang ada dalam makanan itu pun tak terbuang sia-sia. Tahukah anda, bahkan selembar selebaran yang saya baca ini mempunyai jejak air sebanyak 10 liter.
Saya kemudian menyesap secangkir teh yang sudah dipesan. Secangkir teh mempunyai jejak air sebanyak 35 liter. Saya ambil ponsel lalu menyebarkan info ini lewat kicauan dunia maya. Microchip dalam ponsel saya mempunyai jejak air sebanyak 32 liter.
Selembar
selebaran di kedai vegetarian tsb membukakan mata saya yang selama ini
abai. Bahwa air adalah penunjang unsur kehidupan, ia mematri jejaknya
dalam berbagai unsur bahkan hingga ke benda padat dan mungil seperti microchip sekalipun.
Mari
kembali pada segelas air di hadapan. Sudah bersyukurkah anda hari
ini? 97.5% total volume air bumi terdapat di lautan, sisanya yang
berupa air segar tersembunyi dalam lapisan es, dalam endapan tanah, dan
cuma sekitar 0,1% saja air segar yang bisa diakses manusia secara
langsung.
Tak heran jika masih terdapat kurang lebih 1 milyar
manusia yang tak punya akses air minum bersih. Jarak berkilometer harus
ditempuh demi mendatangi sumber air. Itu pun tak selamanya yang
tersedia adalah air bersih karena terkadang sudah bercampur lumpur atau
kotoran.
Pernah semasa sekolah dan tengah dalam pelantikan
pasukan paskibra, saya dan teman-teman digembleng berjam-jam di bawah
terik matahari. Usai pelatihan, kelelahan dan kehausan, kami disuruh
tetap berdiri dalam barisan, lalu sang pembina memberi kami sebotol air
minum yang harus dibagi beramai-ramai untuk seluruh regu. Sebotol air
minum ukuran sedang harus habis dibagi kepada puluhan mulut yang
dahaga. Ini bukan tentang penyiksaan, namun tentang berbagi.
Bergantian, satu persatu kami pun mewadahi air dengan tutup botol.
Hanya
seteguk kecil yang mengaliri tenggorokan. Namun terdapat perbedaan
besar bagi tubuh kaku dan mulut kelu. Kami ingin tegukan berikutnya,
lagi dan lagi. Mungkin di bawah sadar, kami tak ingin mati kehausan. Tahukah
anda bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa makanan hingga sebulan
lamanya, namun hanya bisa bertahan hidup tanpa air selama 5-7 hari saja?
Namun masih ada beban yang harus ditanggung bersama oleh kami saat
itu. Belum pernah seumur hidup saya memandangi botol minum itu
berpindah tangan dari satu ke yang lain dengan penuh kesyahduan.
Akhirnya
anggota regu terakhir berhasil mendapatkan jatahnya. Seteguk kecil
penghabisan. Dan ia pun menangis. Bagai merambat cepat, isak haru
mulai bermunculan.
Prosesi selesai, dan barisan dibubarkan.
Masing-masing kami mendapat jatah air minum segar yang sebenarnya.
Berlimpah. Rindu kami padamu, wahai air!
Saya pun mungkin menangis. Entahlah.
Air
adalah penghargaan hidup, dan kami sungguh menghargai keberadaannya
sejak itu. Kami tahu masih banyak saudara-saudara kecil di berbagai
pelosok negeri dan bumi yang masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Mereka berkorban waktu sekian jam setiap hari hanya demi perjuangan
mendapatkan air yang bahkan tak layak minum. Waktu sekian jam terbuang
percuma yang seharusnya bisa dimanfaatkan mereka untuk bermain, belajar,
dan beristirahat. Waktu sekian jam yang terbuang seharusnyalah
digunakan mereka untuk menikmati hidup.
Segelas air di hadapan anda adalah berkah Tuhan yang paling besar.
Beruntung
masih banyak manusia & lembaga yang peduli akan krisis air bersih
ini. Bantuan layanan sosial diberikan, seperti pembuatan pompa air
hingga layanan pendidikan/edukasi tentang air bersih bagi penduduk di
daerah terpencil. Adalah tanggung jawab bersama pula untuk menggunakan
air bersih secara lebih bijak dan bertanggung jawab.
Air adalah kehidupan itu sendiri.
rujukan data:
www.aqua.com
www.abc.net.au/water
www.unwater.org
31.1.13
7.1.13
The Quest Of Femidom
Perempuan
itu termangu begitu saya bertanya, “Mbak, apa disini jual femidom?”
Drugstore yang saya datangi ini sungguhlah mentereng dengan pencahayaan maksimal
sehingga saya bisa melihat kilasan ragu di mata si pramuniaga. Ada jeda sebelum jawab. “Adanya fungiderm, Mas.”
Akhirnya, sambil
menahan senyum, saya jelaskan padanya bahwa femidom adalah ‘kondom untuk
perempuan’. Si mbak pun (dengan mulut
membentuk huruf o kecil) kemudian menugaskan salah satu rekannya yang langsung memandu saya menuju deretan rak yang penuh
oleh produk kondom beragam merk. "Biasanya ada merk impor, Mas."
Tapi ternyata tiada
penampakan barang yang dimaksud.
“Kalau begitu pakai
pelumas atau ring penggetar saja, Mas,” usul si mbak.
Sungguh disayangkan jika ada pemikiran bahwa kondom itu hanya sebagai alat bantu seksual yang bisa
digantikan oleh pelumas atau ring penggetar, dan bukannya sebagai alat
kontrasepsi (apalagi sebagai pencegah penyakit menular seksual). Saya hampir saja mau bilang: 'saya prihatin'.
“Kondom perempuan
kemasannya seperti apa, Mbak?” tanya saya kemudian sambil memindai seisi rak
dengan seksama. “Biasanya kisaran harganya berapa?”
Mbak itu tampak tak
tertarik lagi dengan pertanyaan saya.
“Sebentar, Mas...” Ia pun berlalu
dan tak muncul kembali. Saya coba tunggu
beberapa lama, namun dirinya tak berpaling lagi pada saya. Mungkin dipikirnya saya cuma main-main.
Saya serius ingin
tahu.
Awalnya adalah
momen Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2012 lalu, pada saat
pencanangan Pekan Kondom Nasional untuk keenam kalinya oleh DKT Indonesia bersama
dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Pekan Kondom Nasional 2012 beragendakan antara lain konser musik, edukasi HIV/AIDS di 12 kota besar,
penyediaan kondom dan lubrikan di sebuah klinik di Bali, hingga lomba foto dan
menulis bagi blogger dan jurnalis.
DKT Indonesia sendiri adalah sebuah
perusahaan sosial marketing yang bergerak dalam bidang perencanaan keluarga dan
pencegahan HIV/AIDS. Berdiri di Indonesia
sejak 1996, DKT sudah mendistribusikan lebih dari 1 milyar kondom.
Fakta tersebut sempat
membuat saya terperangah. Pemakaian
kondom yang tepat dapat menangkal penularan HIV secara efektif hingga lebih
dari 95%. Dan semilyar lebih penyebaran kondom
bukanlah hal yang remeh temeh, karena pastinya sudah banyak membantu dalam hal
pencegahan penularan penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS.
Bayangkanlah seperti film
animasi, dimana kondom-kondom sebanyak itu tersebar di udara dan berjatuhan di
seluruh pelosok negeri. Hujan latex
dalam kemasan. Keemasan. Kemudian saya menyadari sesuatu. Saya kesulitan membayangkan bentuk kemasan
dari kondom perempuan. Hal ini mengganggu saya.
Sampailah saya pada
kesadaran bahwa selama ini tiada pernah memperhatikan atau menyadari
keberadaan alat kontrasepsi yang satu itu.
Bahkan sepertinya kata ‘femidom’ tak pernah muncul dalam kosakata
pergaulan saya dengan teman-teman.
Jujur baru kali
ini saya peduli untuk mengetikkan kata ‘femidom’ atau ‘female condom’ pada
kolom pencarian di internet. Keajaiban
dunia maya sungguh tanpa batas. Akhirnya
bertemulah saya dengan femidom (thanks to Youtube).
Ternyata kondom perempuan ini panjangnya hampir sama dengan kondom
lelaki, hanya saja lebih lebar dengan ring lunak di kedua ujungnya. Cara pemasangannya pun cukup mudah (jika
dilihat dari video peraga, silakan cari sendiri).
Ada banyak
kelebihan femidom yang dipaparkan. Antara
lain bebas alergi & iritasi, tidak mudah bocor, dan dapat mengurangi rasa
sakit akibat ‘kekeringan vagina’ (khususnya bagi yang mengalami
menopause). Femidom dapat mencegah terjadinya ‘interupsi’ pada saat
memulai hubungan intim (karena sang lelaki harus memasang dulu kondomnya). Kelebihan lain adalah pengamanan ekstra dari
ring luar femidom yang mampu melindungi area luar kelamin wanita dari gesekan
pangkal penis (dimana area inilah yang paling rentan kemasukan kuman/virus).
Lalu dari sekian
banyak keunggulan tadi, mengapa kondom perempuan seperti tak terdengar
kiprahnya di Indonesia?
Karena
keterbatasan dana dan waktu, saya pun mengambil sampel acak dari kalangan teman
sendiri (kebetulan semuanya adalah penggiat social media pengguna Apple atau
Android, yang sedikit banyak mengindikasikan latar belakang ekonomi dan
pendidikan). Adapun hasil yang didapat
adalah sbb:
3 dari 10 responden tidak
mengetahui apakah femidom itu
7 dari 10 responden menggunakan
kondom karena lebih takut kehamilan daripada ketularan penyakit
8 dari 10 responden lebih memilih
kondom lelaki daripada kondom perempuan
Pendapat umum responden
tentang femidom adalah sama: sejenis barang langka yang mungkin sudah punah
sebelum beredar. Namun di sisi lain para
responden perempuan berumahtangga umumnya menyatakan bersedia mencoba femidom
jika memang tersedia barangnya.
Itulah alasan
mengapa saya akhirnya mengunjungi beberapa drugstore dan apotek di kota saya
tinggal (Bogor) dalam rangka mencari tahu apakah memang kondom perempuan sulit
dicari. Kunjungan ke lima gerai berbeda
dan hasilnya sama: nihil. Mayoritas
menyarankan saya membeli pelumas dan atau ring penggetar saja. Plus saya mendapat tatapan aneh dan sungkan dari
para pramuniaga (tentu saja seorang lelaki brewokan mencari-cari kondom
perempuan adalah hal yang ‘anti mainstream’ alias di luar kebiasaan).
Yang menarik
adalah adanya pemikiran bahwa kondom itu murni tanggung jawab lelaki, karena
perempuan sudah direpotkan oleh alat kontrasepsi semacam pil, suntik, implant,
dan IUD. Jadi tak perlu lagi kondom
perempuan.
Padahal mungkin
impian dokter Lasse Hessel asal Denmark (yang mencetuskan penemuan kondom
perempuan pada tahun 1980an) adalah murni memberi kendali pada perempuan atas
tubuhnya sendiri. Femidom dapat dipakai
beberapa jam sebelum berhubungan. Hal
ini penting untuk perlindungan diri (apalagi mengingat pergaulan beresiko
dimana pengaruh alkohol atau narkoba dapat mengakibatkan kelalaian pemakaian
kondom lelaki).
Harap diingat
bahwa kondom perempuan ini sama sekali bukan untuk menggantikan fungsi kondom
lelaki atau alat kontrasepsi lainnya, namun justru menjadi penjaga tambahan
dalam mencegah penyebaran penyakit menular seksual termasuk HIV.
Meskipun sampai
detik ini saya belum mendapatkan sampel femidom di tangan saya, namun saya
yakin bahwa barang itu ada di suatu tempat/di tangan yang tepat.
Kunjungan saya yang
terakhir ke sebuah apotek ternama cukup berkesan. Pramuniaga yang melayani saya tampak lebih
cerdas karena ia memahami makna alat kontrasepsi. “Tidak ada femidom, Mas. Kenapa bukan Mas saja yang pakai kondom?”
Saya senang karena
ia tidak menyarankan saya untuk membeli pelumas apalagi ring penggetar, padahal
benda-benda itu terpajang manis di rak sebelah kami. Terbukti pramuniaga ini tidak sekedar
‘jualan’ semata.
“Ini buat bahan
tulisan, Mbak,” ujar saya tersenyum.
“Maaf, mungkin di
tempat lain ada, Mas.”
“Kira-kira apa perlu resep dokter untuk
membelinya?” tanya saya sebelum berlalu.
Ganti si mbak yang
tersenyum. “Seharusnya tidak. Sebagai alat kontrasepsi, kondom lelaki saja
dijual bebas, kenapa kondom perempuan dibedakan?”
Good point. Saya suka.
3.1.13
SINGGAH Naik Cetak
Akhirnya antologi cerpen karya saya dan teman-teman masuk ke percetakan juga. Awal saya terlibat adalah karena ajakan neng Jia, salah seorang kawan yang kebetulan terlibat sebagai editor (sebelum akhirnya beralih ke mbak Siska). Percaya atau tidak, ini adalah karya cerpen perdana saya (padahal sebelumnya paling susah menyelesaikan karya fiksi karena terbiasa menulis jurnal perjalanan).
Singgah adalah kumpulan cerita tentang pertemuan dan perpisahan. Adalah tempat persinggahan (bandara, pelabuhan, stasiun, hingga terminal) yang menjadi latar belakang kisah, dimana ada ramai namun juga ada sepi, ada suka ada duka, atau ada pula tanya tak terjawab. Cerpen yang saya tulis berjudul 'Dermaga Semesta' yang sedikit banyak terinspirasi dari pengalaman saya bertemu seekor anjing kampung kurus di dermaga pulau Bira Besar, Kep. Seribu. Lantas apa hubungannya anjing kampung dengan 'Dermaga Semesta'? Nantikan saja kisahnya :)
Semoga proses percetakan buku ini lancar dan Singgah sudah bisa terbit bulan depan. Doakan kami, kawan!
^^
30.12.12
Salt Print Workshop
Salt print adalah salah satu teknik mencetak foto/gambar di atas kertas yang sudah digunakan sejak tahun 1841. Disebut salt print karena dalam proses pencetakannya banyak menggunakan larutan garam (sodium citrate, sodium chloride, sodium thiosulfate, you name it).
Workshop yang dihelat pada Sabtu mendung 29 Des 2012 ini seakan membawa saya kembali ke masa silam ketika gambar-gambar yang tercetak hanya dalam nuansa duotone. Butuh kecermatan dan kreativitas. Saya paling suka proses dalam ruang gelap karena melibatkan larutan silver nitrate. Jika kulit kita terpercik larutan ini maka akan meninggalkan bercak noda kehitaman yang takkan hilang oleh apapun, kecuali ganti kulit. Menegangkan! Menyenangkan!
For more detail about salt print technique please click h e r e
Credits:
Anton Ismael
Bartian Rachmat
Kelas Pagi Jakarta
Third Eye Space, Jakarta
![]() |
| welcome to Third Eye |
![]() |
| meraciklah dengan cermat dan tepat |
![]() |
| kertas pun berangin-angin usai berendam dalam larutan perekat |
![]() |
| kertas basah, kertas lembab, kertas nyaris kering, semua tampak sama |
![]() |
| print negatif dalam bidang kaca siap dioles larutan silver nitrate dalam kamar gelap |
![]() |
| usai ditempa matahari, air, dan larutan fixer, saatnya berangin-angin kembali |
![]() |
| are we finished yet? |
![]() |
| proses terakhir |
![]() |
| hair dryer would do |
![]() |
| my work ;) |
7.12.12
'Menanti Izrail' In Supernatural
Masih ingat dengan kisah nyata seekor anjing terbuang seperti yang pernah saya tulis dalam [Xenophobia] Monster?
Kisah tsb terjadi beberapa tahun silam, dan membekas sangat dalam benak sehingga akhirnya mengilhami saya dalam menulis cerita berjudul Menanti Izrail. Tentang seekor anjing yang diharamkan berada di lingkungan sekitar dan akhirnya 'tangan sedingin malaikat maut' yang menyelamatkan (sesuatu yang saya sukai karena dalam kegaiban kau tak bisa mematri apakah A begini apakah B begitu dll dsb).
Menanti Izrail pun masuk dalam antologi Supernatural dimana e-novelette-nya sudah bisa diunduh di website Hermesian. Sila menikmati!
^^
25.11.12
Hidayah Pak Hidayat
Apa rasanya jika guru
kesayangan kita wafat dengan kabar miring mengiringi kepergiannya? Tentu menyakitkan.
Hari itu (lebih dari satu dekade lalu) kami
berkumpul di salah satu sudut kelas, sebagian menangis. Gedung sekolah ini masih asing bagi kami,
anak-anak angkatan baru di sebuah SMP negeri.
Kami yang tengah berkabung di sini adalah alumni sebuah sekolah dasar
yang sama, dan baru saja mendengar kabar wafatnya guru SD kesayangan kami
karena kecelakaan lalu lintas.
Salah satu teman
kami, Ningsih, bahkan sudah bengkak matanya, padahal pipinya sendiri sudah
tembam. Tapi ia masih bisa bercerita
jika pak Hidayat (demikian nama guru kesayangan kami) mendapat kecelakaan
seusai bertengkar dengan istrinya. Konon
ada pihak ketiga yang mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka.
Saya tak kuasa
menangis, air mata saya tiada, tapi di dalam hati saya ada rasa nyeri tak
terperi. Pedih. Kami hanyalah anak-anak lugu yang baru
beranjak remaja (bahkan saya sendiri belum mengalami pubertas pada saat
itu). Tak heran jika kejadian tsb
sungguh mampu membuat perasaan kami terguncang.
Rasa sedih kami
mungkin berlipat ganda. Satu, kehilangan
sosok idola. Dua, kehilangan keidolaan
pada sosok tersebut (di mata kami pada saat itu pak Hidayat adalah seorang yang
sempurna tanpa cela). Dan terakhir,
kejadian ini membuat kami semakin merasa kehilangan saat-saat indah semasa
sekolah dasar dulu (sungguh kami benci dan belum terbiasa dengan suasana di SMP
ini).
Mari kembali ke masa
sekolah dasar. Gedung sekolah kami
terletak di samping kebun lebat berpohon durian dan nangka dan bersarang semut
rangrang. Jika tiba musim buah, kami
harus waspada akan ketiban durian atau nangka, dalam arti sebenarnya. Pernah salah seorang adik kelas jatuh pingsan
ketika sebuah nangka besar jatuh dari pohon, menembus genting dan plafon sekolah
dengan suara BRAAAK, lalu menimpa
dirinya yang tak sempat menghindar.
Tapi peristiwa nahas
itu cuma terjadi sekali, dan selebihnya kami malah lebih sering mengambil
keuntungan dari buah-buahan yang matang di kebun sebelah. Pemilik kebun ini adalah salah seorang
penduduk setempat, dan beliau selalu bermurah hati membagi hasil kebunnya
dengan kami.
Pak Hidayat adalah
wali kelas enam, dan inilah keberuntungan yang sesungguhnya karena kami bisa berada
di bawah asuhan beliau.
Kekaguman saya pada beliau
sudah terpateri sejak saya mendapat piagam penghargaan setiap kenaikan kelas. Tiap lembar piagam ditulis tangan dengan
indah olehnya sendiri. Tulisannya bak
seni kaligrafi.
Salah satu inspirasi
paling dini yang saya dapatkan dari beliau adalah bagaimana mendapatkan tulisan
tangan yang setidaknya bisa dibilang bagus.
Saya paling rajin berlatih dengan buku menulis halus, dan walaupun
kemudian tulisan tangan saya tak seindah tulisan pak Hidayat yang berukir-ukir,
tapi setidaknya tulisan tangan saya semasa sekolah jauh lebih bagus dari masa
sekarang. Terbukti saya selalu ditunjuk
menjadi sekretaris kelas dari SD hingga kuliah (walaupun terkadang saya enggan
karena sering diledek, “Sekretaris kok
tak pakai rok mini?”).
Selain wali kelas
enam, pak Hidayat adalah juga guru agama (mungkin sedikit banyak beliau belajar
ilmu kaligrafi berkat profesinya ini).
Pak Hidayat adalah mentor rohani kami sekelas dan sesekolah. Jangan bayangkan beliau sebagai kakek-kakek
bersurban dan berjanggut putih, salah besar.
Ia adalah seorang bapak muda yang gagah, berwajah klimis dengan rambut
yang selalu licin berminyak, serta gemar mengenakan setelan safari full-pressed-body. Pembawaannya riang dan humoris, namun juga
tegas.
Usai jam pelajaran
sekolah, pak Hidayat selalu mengadakan kuis.
Ia akan melontarkan sebuah pertanyaan (yang membutuhkan jawaban panjang
atau detail), lalu siapapun yang mengacungkan tangan terlebih dahulu
dipersilakan menjawab pertanyaan tsb di depan kelas. Jika sang murid bisa menjawabnya dengan tepat,
maka murid-murid lain yang duduk satu lajur dengannya boleh meninggalkan kelas
terlebih dahulu. Dan jika sang murid
mendapat kesulitan dalam menjawab pertanyaan, maka murid-murid yang duduk satu
lajur dengannya diperbolehkan membantu.
Saya masih ingat ketika
kuis ini perdana digelar, sayalah yang mendapat kesempatan pertama maju ke
depan kelas. Pertanyannya mudah saja:
sebutkan masing-masing hasil perkalian 1 sampai dengan 10.
1 x 1 = 1, 1 x 2 = 2,
dst saya ucapkan dengan lantang. Setelah
1 x 10 = 10 saya berhenti lalu melirik pak Hidayat.
Beliau tertawa lalu
bilang, “Teruskan ke perkalian 2, lanjut hingga perkalian 10.”
Oh, saya kira sudah selesai, ternyata masih banyak hasil
perkalian yang harus diucapkan.
Beruntung saya sudah hafal. Tanpa
ragu saya kembali mengucapkan hasil perkalian dengan lantang.
Memasuki perkalian 7
ke atas mulut saya sudah kering sehingga beberapa kali ucapan saya tersendat. Pak Hidayat tertawa melihat saya acap kali
menelan ludah untuk melumasi tenggorokan.
Mungkin dikiranya saya bakal menyerah, tapi tak akan.
Pada akhirnya saya
berhasil menunaikan tugas dengan sempurna.
Gegap gempita seisi kelas merayakan keberhasilan tugas perdana ini, dan
saya nyaris merasa bagaikan pahlawan yang sedang dielu-elukan.
Kuis seperti ini selalu
diadakan setiap hari, materi pertanyaannya pun acak dari semua mata pelajaran,
sehingga mau tak mau membuat kami harus selalu siap sedia setiap saat. Kami jadi lebih giat belajar, jauh lebih
tekun dibandingkan semasa kelas satu hingga kelas lima dahulu.
Lantas apakah setelah
kuis maka kami bisa langsung pulang?
Jangan senang dulu,
tergantung jadwal piket kebersihannya.
Jika di kelas lain jadwal piket cuma dilakukan sekedarnya di pagi hari,
maka pak Hidayat menyuruh kami kelas enam bertugas piket dua kali dalam sehari,
yakni sebelum dan seusai jam sekolah.
Jika biasanya tugas
piket hanya terdiri atas menyapu kelas dan membersihkan papan tulis, maka di
bawah pengawasan pak Hidayat deretan tugas kami bertambah. Meja-meja dilap sementara laci-laci dibersihkan. Kursi-kursi dibersihkan lalu dinaikkan ke
atas meja. Lantai disapu hingga bersih
kemudian di-pel (airnya kami timba sendiri dari sumur di kebun). Pintu dan jendela dilap, termasuk kaca
jendela yang dibersihkan dengan kertas koran basah. Papan tulis dibersihkan dengan lap basah,
kapur tulis diganti dengan yang baru, penghapus dibersihkan dari debu. Taplak meja guru bila perlu diganti dengan
yang bersih (sementara taplak meja yang kotor dibawa pulang untuk dicuci). Gelas minum guru dan vas bunga harus diganti
airnya setiap hari. Bunga-bunga segar dipetik
setiap pagi dari pekarangan sekolah dan ditaruh di vas bunga.
Semua ini kami
lakukan dua kali dalam sehari.
Hasilnya suasana
kelas kami selalu apik resik, semarak oleh harum bunga. Lantai kelas pun bersih dan licin karena selalu
di-pel dua kali sehari, bahkan untuk duduk atau tidur-tiduran di lantai pun
terasa nyaman.
Bukan cuma ruang
kelas, bahkan koridor di depan kelas kami pun turut bersih cemerlang. Sungguh nyata terlihat perbedaannya dengan koridor
kelas lain yang kotor.
Tanpa disuruh, akhirnya
menjadi adat kebiasaan kami (para murid, guru, dan bahkan kepala sekolah) untuk
selalu membuka sepatu sebelum melangkahi koridor kelas enam dan masuk ke dalam
ruang kelasnya.
Kedisiplinan pak
Hidayat dalam menjaga adab kebersihan ini sungguhlah menjadi suri tauladan bagi
kami dan seisi penghuni sekolah.
Saya pribadi bahkan
merasakan hal positif lain, yaitu munculnya sense
of belonging. Kami semua merasakan inilah ruangan kami. Kelas kami adalah rumah kami. Nyaman dan menyenangkan.
Sebagai wali kelas,
pak Hidayat juga mampu mengayomi kami.
Dia tahu bagaimana menghadapi karakter anak didiknya satu persatu. Dia tahu cara menangani saya yang pemalu
sekaligus keras kepala ini dengan baik.
Cuma karena bujukan beliaulah saya berani mewakili sekolah sebagai
dokter cilik, atau sebagai duta SKJ (Senam Kesegaran Jasmani).
Beliau juga memberi
kami bimbingan ‘tari jaipongan’ (beliau menyuruh adik kelas yang jago menari
untuk mengajari kami dan beliau mengawasi) karena untuk ujian praktek kesenian,
tiap murid harus menarikan tarian tradisional, dan kami semua kompak memilih
jaipongan. Atau tepatnya kami tak punya
pilihan, dan pak Hidayatlah yang memberi solusi.
Sewaktu pengumuman
kelulusan, beliau rela menyambangi rumah anak didiknya satu persatu, hanya
untuk menyampaikan surat tanda kelulusan serta mengucapkan selamat.
Pak Hidayat adalah ayah kami.
Maka tak heran ketika
tiba masa meninggalkan SD, kami semua murid kelas enam menangis karena harus
meninggalkan pak Hidayat. Harus
meninggalkan ruangan kelas kami yang nyaman.
Harus meninggalkan kebersamaan ini.
Harus meninggalkan keluarga kedua kami.
Saya tak ingat apakah
pak Hidayat ikut menangis ketika kami menyalaminya satu persatu. Mata saya terlalu berkabut untuk melihatnya. Saya cuma ingat bahwa masing-masing kami
memberinya bingkisan kenang-kenangan.
Orangtua saya membungkuskan saya dua helai kain yang mudah-mudahan bisa
beliau jahit menjadi setelan safari sebagai seragam favoritnya.
Memasuki SMP, sebagian
kami berpencar karena diterima di sekolah yang berbeda-beda. Meskipun saya masuk di SMP favorit, tapi
sungguh berat beradaptasi di lingkungan yang sama sekali berbeda ini.
Tak ada yang
mengawasi tugas piket. Tak ada yang
menemani dan membimbing kami seharian dalam kelas, karena di SMP ini tiap mata
pelajaran diajar oleh guru yang berbeda.
Wali kelas kami yang baru terasa jauh di awang-awang. Bahkan semangat belajar saya bisa dibilang
mengendur karena tak ada permainan kuis di akhir jam pelajaran.
Yang utama adalah,
tak ada ruang kelas yang bisa kami sebut ‘rumah’, dan tak ada sosok ayah yang
mengayomi.
Sebenarnya tak ada
yang salah dengan SMP kami, masalahnya mungkin cuma ‘gegar budaya’ dan
adaptasi. Kami tiba-tiba keluar dari
zona nyaman.
Belum lagi kami
terbiasa dengan lingkungan sekolah yang baru, tiba-tiba saja datanglah berita
mengejutkan itu.
Pak Hidayat meninggal, kecelakaan!
Jika selulus SD kami
menangis karena harus meninggalkan pak Hidayat, maka di SMP ini kami kembali dalam
lara karena pak Hidayatlah yang meninggalkan kami. Untuk selamanya.
Masalah beliau wafat
karena kecelakaan mungkin adalah hal yang bisa kami hadapi dengan tabah. Namun kabar miring yang menyebutkan beliau
terlibat skandal adalah sungguh di luar nalar kami, anak-anak belia belasan
tahun yang belum mengenal dunia dan cuma mengenal beliau sebagai sosok idola
tanpa cela.
Belum pulih dari duka
kehilangan pada saat itu, kemudian datang lagi kabar lain. Pak
Hidayat muncul kembali! Kabar itu
muncul begitu mengejutkan di suatu pagi: pak Hidayat tiba-tiba muncul di gerbang
SD kami, memperhatikan murid-murid yang tengah senam pagi. Konon mukanya terlihat bersih bersinar dan
pakaian safarinya tampak licin berkilau.
Ia tersenyum lebar. Lalu kemudian
menghilang.
Saksi dari kejadian ini
adalah seisi sekolah yang tengah berada di halaman!
Kami, mantan muridnya
yang sudah SMP, tentu saja tidak dapat menyaksikan kejadian tsb. Antara percaya tak percaya, namun hal itu
kemudian sempat lama menjadi bahan perbincangan kami. Harap kami semoga saja arwah beliau tenang di
sisiNya.
Aamin.
Namun kelak kami,
atau saya pribadi tepatnya, pun dapat menarik hikmah dari peristiwa
tersebut. Pak Hidayat adalah manusia biasa
yang tak luput dari kesalahan.
Saya berpegang teguh
pada pepatah bijak: hate the sin, love
the sinner. Tak peduli kesalahan apa
yang beliau perbuat di luar predikatnya sebagai guru, kami tetap dapat
merasakan kasih sayang dan dedikasinya yang besar bagi kami para anak didiknya.
Tanpa ragu kami akan
tetap menyayangi dan menghormatinya sebagai guru dan ayah terbaik.
24.9.12
The Reds
IALAH persekutuan warna yang menjadi sandang pemersatu kami (dan sama sekali tiada hubungan dengan klub pecinta sepakbola di negeri sana).
Senang rasa berjumpa dengan sosok-sosok yang selama ini wara-wiri di layar vitual dalam bentuk headshot dan tulisan. Berawal dari rasa solidaritas yang sama akan pembubaran blogger MP, membuat kami malah semakin akrab satu sama lain (dan bahkan beberapa orang malah bersua pada hari itu juga walaupun belum berkontak di dunia maya).
Pada akhirnya, pembubaranlah yang mempersatukan.
\(^v^)/
![]() |
| Ardi-Bimo-Rama-TJ-Echan-Inggrid |
![]() |
| Diduk-Riswan-Ancha-Ananta-bakmiayampedas-Badai |
Subscribe to:
Posts (Atom)

























