31.1.13

One Life To Live

Pandanglah segelas air di hadapan.  Apakah yang terlintas dalam benak?  Adakah yang terbersit walau sekilas, ataukah cuma hampa saja?

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan sejarah suatu benda, bahkan termasuk asal muasal air yang saya minum.   Tatkala saya haus dan kemudian ibu menuangkan air dalam gelas, maka saya akan bertanya darimana air minum berasal.  Ibu akan bilang kalau air minum ini berasal dari air sumur yang sudah dimasak.  Air sumur datang darimana, tanya saya lagi.  Dari dalam tanah, kata ibu.  Sebelum saya menjadi terlalu cerewet kemudian beliau melanjutkan penjelasannya.  Bahwasanya air dalam tanah berasal dari hujan.  Dan hujan berasal dari awan.  Awan berasal dari penguapan air di bumi.  Uap air berasal dari lautan, sungai, pepohonan, dll.  Dan seterusnya, dan seterusnya, dimana kelak saya menyadari bahwa itulah pemahaman dasar mengenai siklus air.

Tetapi sebenarnya bukan sekedar siklus air tadi yang menjadi kepenasaranan saya.  Beranjak dewasa, ketertarikan saya akan sejarah suatu benda ternyata lebih terdefinisi.  Saya lebih tertarik mencari tahu pengalaman atau experience suatu benda ketimbang asal muasalnya.

Siklus air adalah lingkaran yang tak putus.  Seperti kita tahu, lingkaran tak mempunyai ujung awal ataupun akhir.  Konstan.  Air adalah konstanta yang sudah ada jauh sebelum cikal bakal kehidupan di bumi terbentuk.  Selama berjuta tahun sudah air bergerak dalam siklusnya.  Ia memberkati bumi dengan curah hujan.  Lalu menghidupinya dengan nutrisi.  Ia mengalami penyulingan lewat proses penguapan atau evaporasi.  Demikian terus berulang dalam volume yang relatif sama.  Dengan kata lain, air yang kita minum sekarang adalah air yang sama dengan yang sudah ada sejak awal penciptaan.  Tidakkah hal itu menakjubkan?

Fakta inilah yang menggairahkan saya.  Air adalah saksi kehidupan di bumi.

Tataplah segelas air di hadapan.  Benak anda kini pasti membayangkan pengembaraan sang air.  Sudah seberapa jauh ia berkelana dari masa ke masa?  Sudahkah ia turun di seluruh pelosok bumi?  Siapa sajakah legenda dunia yang pernah ia sapa dalam rinainya--ia basuh dalam basahnya--ia segarkan dalam teguknya?  Adakah ia menyimpan ingatan zaman purba dalam molekul-molekulnya?
 

Kemudian dari sebuah selebaran di kedai vegetarian, saya mengenal pula istilah water footprint alias jejak air.  Water footprint kadang disebut pula virtual water, ialah jumlah air yang digunakan dalam keseluruhan produksi dan/atau pertumbuhan suatu produk.  Sebagai contoh, 1 kg daging sapi mempunyai jejak air sebanyak 16 ribu liter.  Jumlah air sebanyak itulah yang telah digunakan untuk membesarkan, merawat, memberi makan si sapi hingga akhirnya dikirim ke rumah jagal untuk dijadikan daging siap santap seberat 1 kg.  Padahal seekor sapi utuh bisa menghasilkan daging hingga ratusan kg.  Jadi hitung sendiri berapa total jejak air yang dibutuhkan (belum ditambah dengan jejak karbon yang dilepaskan di udara).
 

Selebaran yang saya baca ini sungguh menyampaikan informasinya secara cerdas bernas.  Tujuannya tidak memprovokasi orang supaya beralih menjadi vegetarian, namun lebih mengusik kesadaran pembaca untuk bertindak lebih bijak.  Makanlah dalam porsi cukup agar tiada yang tersisa, supaya jejak air yang ada dalam makanan itu pun tak terbuang sia-sia.  Tahukah anda,  bahkan selembar selebaran yang saya baca ini mempunyai jejak air sebanyak 10 liter.

Saya kemudian menyesap secangkir teh yang sudah dipesan.  Secangkir teh mempunyai jejak air sebanyak 35 liter.  Saya ambil ponsel lalu menyebarkan info ini lewat kicauan dunia maya.  Microchip dalam ponsel saya mempunyai jejak air sebanyak 32 liter.
 

Selembar selebaran di kedai vegetarian tsb membukakan mata saya yang selama ini abai.  Bahwa air adalah penunjang unsur kehidupan, ia mematri jejaknya dalam berbagai unsur bahkan hingga ke benda padat dan mungil seperti microchip sekalipun.
 

Mari kembali pada segelas air di hadapan.  Sudah bersyukurkah anda hari ini?  97.5% total volume air bumi terdapat di lautan, sisanya yang berupa air segar tersembunyi dalam lapisan es, dalam endapan tanah, dan cuma sekitar 0,1% saja air segar yang bisa diakses manusia secara langsung.

Tak heran jika masih terdapat kurang lebih 1 milyar manusia yang tak punya akses air minum bersih.  Jarak berkilometer harus ditempuh demi mendatangi sumber air.  Itu pun tak selamanya yang tersedia adalah air bersih karena terkadang sudah bercampur lumpur atau kotoran.

Pernah semasa sekolah dan tengah dalam pelantikan pasukan paskibra, saya dan teman-teman digembleng berjam-jam di bawah terik matahari.  Usai pelatihan, kelelahan dan kehausan, kami disuruh tetap berdiri dalam barisan, lalu sang pembina memberi kami sebotol air minum yang harus dibagi beramai-ramai untuk seluruh regu.  Sebotol air minum ukuran sedang harus habis dibagi kepada puluhan mulut yang dahaga.  Ini bukan tentang penyiksaan, namun tentang berbagi.  Bergantian, satu persatu kami pun mewadahi air dengan tutup botol.

Hanya seteguk kecil yang mengaliri tenggorokan.  Namun terdapat perbedaan besar bagi tubuh kaku dan mulut kelu.  Kami ingin tegukan berikutnya, lagi dan lagi.  Mungkin di bawah sadar, kami tak ingin mati kehausan.  Tahukah anda bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa makanan hingga sebulan lamanya, namun hanya bisa bertahan hidup tanpa air selama 5-7 hari saja?  Namun masih ada beban yang harus ditanggung bersama oleh kami saat itu.  Belum pernah seumur hidup saya memandangi botol minum itu berpindah tangan dari satu ke yang lain dengan penuh kesyahduan.

Akhirnya anggota regu terakhir berhasil mendapatkan jatahnya.  Seteguk kecil penghabisan.  Dan ia pun menangis.  Bagai merambat cepat, isak haru mulai bermunculan.

Prosesi selesai, dan barisan dibubarkan.  Masing-masing kami mendapat jatah air minum segar yang sebenarnya.  Berlimpah.  Rindu kami padamu, wahai air!

Saya pun mungkin menangis.  Entahlah.

Air adalah penghargaan hidup, dan kami sungguh menghargai keberadaannya sejak itu.  Kami tahu masih banyak saudara-saudara kecil di berbagai pelosok negeri dan bumi yang masih kesulitan mendapatkan air bersih.  Mereka berkorban waktu sekian jam setiap hari hanya demi perjuangan mendapatkan air yang bahkan tak layak minum.  Waktu sekian jam terbuang percuma yang seharusnya bisa dimanfaatkan mereka untuk bermain, belajar, dan beristirahat.  Waktu sekian jam yang terbuang seharusnyalah digunakan mereka untuk menikmati hidup.

Segelas air di hadapan anda adalah berkah Tuhan yang paling besar.

Beruntung masih banyak manusia & lembaga yang peduli akan krisis air bersih ini.  Bantuan layanan sosial diberikan, seperti pembuatan pompa air hingga layanan pendidikan/edukasi tentang air bersih bagi penduduk di daerah terpencil.  Adalah tanggung jawab bersama pula untuk menggunakan air bersih secara lebih bijak dan bertanggung jawab.

Air adalah kehidupan itu sendiri.







rujukan data:
www.aqua.com
www.abc.net.au/water
www.unwater.org

7.1.13

The Quest Of Femidom


            Perempuan itu termangu begitu saya bertanya, “Mbak, apa disini jual femidom?”

            Drugstore yang saya datangi ini sungguhlah mentereng dengan pencahayaan maksimal sehingga saya bisa melihat kilasan ragu di mata si pramuniaga.  Ada jeda sebelum jawab.  “Adanya fungiderm, Mas.”

            Akhirnya, sambil menahan senyum, saya jelaskan padanya bahwa femidom adalah ‘kondom untuk perempuan’.  Si mbak pun (dengan mulut membentuk huruf o kecil) kemudian menugaskan salah satu rekannya yang langsung memandu saya menuju deretan rak yang penuh oleh produk kondom beragam merk.  "Biasanya ada merk impor, Mas."

            Tapi ternyata tiada penampakan barang yang dimaksud.
            
            “Kalau begitu pakai pelumas atau ring penggetar saja, Mas,” usul si mbak.
            
             Sungguh disayangkan jika ada pemikiran bahwa kondom itu hanya sebagai alat bantu seksual yang bisa digantikan oleh pelumas atau ring penggetar, dan bukannya sebagai alat kontrasepsi (apalagi sebagai pencegah penyakit menular seksual).  Saya hampir saja mau bilang: 'saya prihatin'.

            “Kondom perempuan kemasannya seperti apa, Mbak?” tanya saya kemudian sambil memindai seisi rak dengan seksama.  “Biasanya kisaran harganya berapa?”

            Mbak itu tampak tak tertarik lagi dengan pertanyaan saya.   “Sebentar, Mas...”  Ia pun berlalu dan tak muncul kembali.  Saya coba tunggu beberapa lama, namun dirinya tak berpaling lagi pada saya.   Mungkin dipikirnya saya cuma main-main.


            Saya serius ingin tahu.

            Awalnya adalah momen Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2012 lalu, pada saat pencanangan Pekan Kondom Nasional untuk keenam kalinya oleh DKT Indonesia bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).    Pekan Kondom Nasional 2012 beragendakan antara lain konser musik, edukasi HIV/AIDS di 12 kota besar, penyediaan kondom dan lubrikan di sebuah klinik di Bali, hingga lomba foto dan menulis bagi blogger dan jurnalis.

            DKT Indonesia sendiri adalah sebuah perusahaan sosial marketing yang bergerak dalam bidang perencanaan keluarga dan pencegahan HIV/AIDS.  Berdiri di Indonesia sejak 1996, DKT sudah mendistribusikan lebih dari 1 milyar kondom.

            Fakta tersebut sempat membuat saya terperangah.  Pemakaian kondom yang tepat dapat menangkal penularan HIV secara efektif hingga lebih dari 95%.  Dan semilyar lebih penyebaran kondom bukanlah hal yang remeh temeh, karena pastinya sudah banyak membantu dalam hal pencegahan penularan penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS.

            Bayangkanlah seperti film animasi, dimana kondom-kondom sebanyak itu tersebar di udara dan berjatuhan di seluruh pelosok negeri.  Hujan latex dalam kemasan.  Keemasan.  Kemudian saya menyadari sesuatu.  Saya kesulitan membayangkan bentuk kemasan dari kondom perempuan.  Hal ini mengganggu saya.

            Sampailah saya pada kesadaran bahwa selama ini tiada pernah memperhatikan atau menyadari keberadaan alat kontrasepsi yang satu itu.  Bahkan sepertinya kata ‘femidom’ tak pernah muncul dalam kosakata pergaulan saya dengan teman-teman.

            Jujur baru kali ini saya peduli untuk mengetikkan kata ‘femidom’ atau ‘female condom’ pada kolom pencarian di internet.  Keajaiban dunia maya sungguh tanpa batas.  Akhirnya bertemulah saya dengan femidom (thanks to Youtube).  Ternyata kondom perempuan ini panjangnya hampir sama dengan kondom lelaki, hanya saja lebih lebar dengan ring lunak di kedua ujungnya.  Cara pemasangannya pun cukup mudah (jika dilihat dari video peraga, silakan cari sendiri).

            Ada banyak kelebihan femidom yang dipaparkan.  Antara lain bebas alergi & iritasi, tidak mudah bocor, dan dapat mengurangi rasa sakit akibat ‘kekeringan vagina’ (khususnya bagi yang mengalami menopause).  Femidom dapat  mencegah terjadinya ‘interupsi’ pada saat memulai hubungan intim (karena sang lelaki harus memasang dulu kondomnya).   Kelebihan lain adalah pengamanan ekstra dari ring luar femidom yang mampu melindungi area luar kelamin wanita dari gesekan pangkal penis (dimana area inilah yang paling rentan kemasukan kuman/virus).

            Lalu dari sekian banyak keunggulan tadi, mengapa kondom perempuan seperti tak terdengar kiprahnya di Indonesia?

            Karena keterbatasan dana dan waktu, saya pun mengambil sampel acak dari kalangan teman sendiri (kebetulan semuanya adalah penggiat social media pengguna Apple atau Android, yang sedikit banyak mengindikasikan latar belakang ekonomi dan pendidikan).  Adapun hasil yang didapat adalah sbb:
     
     3 dari 10 responden tidak mengetahui apakah femidom itu
     7 dari 10 responden menggunakan kondom karena lebih takut kehamilan daripada ketularan penyakit
     8 dari 10 responden lebih memilih kondom lelaki daripada kondom perempuan

            Pendapat umum responden tentang femidom adalah sama: sejenis barang langka yang mungkin sudah punah sebelum beredar.  Namun di sisi lain para responden perempuan berumahtangga umumnya menyatakan bersedia mencoba femidom jika memang tersedia barangnya.

            Itulah alasan mengapa saya akhirnya mengunjungi beberapa drugstore dan apotek di kota saya tinggal (Bogor) dalam rangka mencari tahu apakah memang kondom perempuan sulit dicari.  Kunjungan ke lima gerai berbeda dan hasilnya sama: nihil.  Mayoritas menyarankan saya membeli pelumas dan atau ring penggetar saja.  Plus saya mendapat tatapan aneh dan sungkan dari para pramuniaga (tentu saja seorang lelaki brewokan mencari-cari kondom perempuan adalah hal yang ‘anti mainstream’ alias di luar kebiasaan).

            Yang menarik adalah adanya pemikiran bahwa kondom itu murni tanggung jawab lelaki, karena perempuan sudah direpotkan oleh alat kontrasepsi semacam pil, suntik, implant, dan IUD.  Jadi tak perlu lagi kondom perempuan.

            Padahal mungkin impian dokter Lasse Hessel asal Denmark (yang mencetuskan penemuan kondom perempuan pada tahun 1980an) adalah murni memberi kendali pada perempuan atas tubuhnya sendiri.  Femidom dapat dipakai beberapa jam sebelum berhubungan.  Hal ini penting untuk perlindungan diri (apalagi mengingat pergaulan beresiko dimana pengaruh alkohol atau narkoba dapat mengakibatkan kelalaian pemakaian kondom lelaki).

           Harap diingat bahwa kondom perempuan ini sama sekali bukan untuk menggantikan fungsi kondom lelaki atau alat kontrasepsi lainnya, namun justru menjadi penjaga tambahan dalam mencegah penyebaran penyakit menular seksual termasuk HIV.

            Meskipun sampai detik ini saya belum mendapatkan sampel femidom di tangan saya, namun saya yakin bahwa barang itu ada di suatu tempat/di tangan yang tepat.


            Kunjungan saya yang terakhir ke sebuah apotek ternama cukup berkesan.  Pramuniaga yang melayani saya tampak lebih cerdas karena ia memahami makna alat kontrasepsi.  “Tidak ada femidom, Mas.  Kenapa bukan Mas saja yang pakai kondom?”

            Saya senang karena ia tidak menyarankan saya untuk membeli pelumas apalagi ring penggetar, padahal benda-benda itu terpajang manis di rak sebelah kami.  Terbukti pramuniaga ini tidak sekedar ‘jualan’ semata.

            “Ini buat bahan tulisan, Mbak,” ujar saya tersenyum. 

            “Maaf, mungkin di tempat lain ada, Mas.”

            “Kira-kira apa perlu resep dokter untuk membelinya?” tanya saya sebelum berlalu.

            Ganti si mbak yang tersenyum.  “Seharusnya tidak.  Sebagai alat kontrasepsi, kondom lelaki saja dijual bebas, kenapa kondom perempuan dibedakan?”

            Good point.  Saya suka.


3.1.13

SINGGAH Naik Cetak



Akhirnya antologi cerpen karya saya dan teman-teman masuk ke percetakan juga.  Awal saya terlibat adalah karena ajakan neng Jia, salah seorang kawan yang kebetulan terlibat sebagai editor (sebelum akhirnya beralih ke mbak Siska).  Percaya atau tidak, ini adalah karya cerpen perdana saya (padahal sebelumnya paling susah menyelesaikan karya fiksi karena terbiasa menulis jurnal perjalanan).

Singgah adalah kumpulan cerita tentang pertemuan dan perpisahan.  Adalah tempat persinggahan (bandara, pelabuhan, stasiun, hingga terminal) yang menjadi latar belakang kisah, dimana ada ramai namun juga ada sepi, ada suka ada duka, atau ada pula tanya tak terjawab.  Cerpen yang saya tulis berjudul 'Dermaga Semesta' yang sedikit banyak terinspirasi dari pengalaman saya bertemu seekor anjing kampung kurus di dermaga pulau Bira Besar, Kep. Seribu.  Lantas apa hubungannya anjing kampung dengan 'Dermaga Semesta'?  Nantikan saja kisahnya :)

Semoga proses percetakan buku ini lancar dan Singgah sudah bisa terbit bulan depan.  Doakan kami, kawan!


^^

30.12.12

Salt Print Workshop


Salt print adalah salah satu teknik mencetak foto/gambar di atas kertas yang sudah digunakan sejak tahun 1841.  Disebut salt print karena dalam proses pencetakannya banyak menggunakan larutan garam (sodium citrate, sodium chloride, sodium thiosulfate, you name it).

Workshop yang dihelat pada Sabtu mendung 29 Des 2012 ini seakan membawa saya kembali ke masa silam ketika gambar-gambar yang tercetak hanya dalam nuansa duotone.  Butuh kecermatan dan kreativitas.  Saya paling suka proses dalam ruang gelap karena melibatkan larutan silver nitrate.  Jika kulit kita terpercik larutan ini maka akan meninggalkan bercak noda kehitaman yang takkan hilang oleh apapun, kecuali ganti kulit.  Menegangkan!  Menyenangkan!

For more detail about salt print technique please click h e r e 

Credits:
Anton Ismael
Bartian Rachmat
Kelas Pagi Jakarta
Third Eye Space, Jakarta


welcome to Third Eye

meraciklah dengan cermat dan tepat

kertas pun berangin-angin usai berendam dalam larutan perekat

kertas basah, kertas lembab, kertas nyaris kering, semua tampak sama

print negatif dalam bidang kaca siap dioles larutan silver nitrate dalam kamar gelap

usai ditempa matahari, air, dan larutan fixer, saatnya berangin-angin kembali

are we finished yet?

proses terakhir

hair dryer would do

my work ;)

7.12.12

'Menanti Izrail' In Supernatural



Masih ingat dengan kisah nyata seekor anjing terbuang seperti yang pernah saya tulis dalam [Xenophobia] Monster?

Kisah tsb terjadi beberapa tahun silam, dan membekas sangat dalam benak sehingga akhirnya mengilhami saya dalam menulis cerita berjudul Menanti Izrail.  Tentang seekor anjing yang diharamkan berada di lingkungan sekitar dan akhirnya 'tangan sedingin malaikat maut' yang menyelamatkan (sesuatu yang saya sukai karena dalam kegaiban kau tak bisa mematri apakah A begini apakah B begitu dll dsb).

Menanti Izrail pun masuk dalam antologi Supernatural dimana e-novelette-nya sudah bisa diunduh di website Hermesian.  Sila menikmati!


^^

25.11.12

Hidayah Pak Hidayat


Apa rasanya jika guru kesayangan kita wafat dengan kabar miring mengiringi kepergiannya?  Tentu menyakitkan.

Hari itu (lebih dari satu dekade lalu) kami berkumpul di salah satu sudut kelas, sebagian menangis.  Gedung sekolah ini masih asing bagi kami, anak-anak angkatan baru di sebuah SMP negeri.  Kami yang tengah berkabung di sini adalah alumni sebuah sekolah dasar yang sama, dan baru saja mendengar kabar wafatnya guru SD kesayangan kami karena kecelakaan lalu lintas.

Salah satu teman kami, Ningsih, bahkan sudah bengkak matanya, padahal pipinya sendiri sudah tembam.  Tapi ia masih bisa bercerita jika pak Hidayat (demikian nama guru kesayangan kami) mendapat kecelakaan seusai bertengkar dengan istrinya.  Konon ada pihak ketiga yang mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka.

Saya tak kuasa menangis, air mata saya tiada, tapi di dalam hati saya ada rasa nyeri tak terperi.  Pedih.  Kami hanyalah anak-anak lugu yang baru beranjak remaja (bahkan saya sendiri belum mengalami pubertas pada saat itu).  Tak heran jika kejadian tsb sungguh mampu membuat perasaan kami terguncang.

Rasa sedih kami mungkin berlipat ganda.  Satu, kehilangan sosok idola.  Dua, kehilangan keidolaan pada sosok tersebut (di mata kami pada saat itu pak Hidayat adalah seorang yang sempurna tanpa cela).  Dan terakhir, kejadian ini membuat kami semakin merasa kehilangan saat-saat indah semasa sekolah dasar dulu (sungguh kami benci dan belum terbiasa dengan suasana di SMP ini).

Mari kembali ke masa sekolah dasar.  Gedung sekolah kami terletak di samping kebun lebat berpohon durian dan nangka dan bersarang semut rangrang.  Jika tiba musim buah, kami harus waspada akan ketiban durian atau nangka, dalam arti sebenarnya.  Pernah salah seorang adik kelas jatuh pingsan ketika sebuah nangka besar jatuh dari pohon, menembus genting dan plafon sekolah dengan suara BRAAAK, lalu menimpa dirinya yang tak sempat menghindar.

Tapi peristiwa nahas itu cuma terjadi sekali, dan selebihnya kami malah lebih sering mengambil keuntungan dari buah-buahan yang matang di kebun sebelah.  Pemilik kebun ini adalah salah seorang penduduk setempat, dan beliau selalu bermurah hati membagi hasil kebunnya dengan kami.

Pak Hidayat adalah wali kelas enam, dan inilah keberuntungan yang sesungguhnya karena kami bisa berada di bawah asuhan beliau.

Kekaguman saya pada beliau sudah terpateri sejak saya mendapat piagam penghargaan setiap kenaikan kelas.  Tiap lembar piagam ditulis tangan dengan indah olehnya sendiri.  Tulisannya bak seni kaligrafi.

Salah satu inspirasi paling dini yang saya dapatkan dari beliau adalah bagaimana mendapatkan tulisan tangan yang setidaknya bisa dibilang bagus.  Saya paling rajin berlatih dengan buku menulis halus, dan walaupun kemudian tulisan tangan saya tak seindah tulisan pak Hidayat yang berukir-ukir, tapi setidaknya tulisan tangan saya semasa sekolah jauh lebih bagus dari masa sekarang.  Terbukti saya selalu ditunjuk menjadi sekretaris kelas dari SD hingga kuliah (walaupun terkadang saya enggan karena sering diledek, “Sekretaris kok tak pakai rok mini?”).

Selain wali kelas enam, pak Hidayat adalah juga guru agama (mungkin sedikit banyak beliau belajar ilmu kaligrafi berkat profesinya ini).  Pak Hidayat adalah mentor rohani kami sekelas dan sesekolah.  Jangan bayangkan beliau sebagai kakek-kakek bersurban dan berjanggut putih, salah besar.  Ia adalah seorang bapak muda yang gagah, berwajah klimis dengan rambut yang selalu licin berminyak, serta gemar mengenakan setelan safari full-pressed-body.  Pembawaannya riang dan humoris, namun juga tegas.

Usai jam pelajaran sekolah, pak Hidayat selalu mengadakan kuis.  Ia akan melontarkan sebuah pertanyaan (yang membutuhkan jawaban panjang atau detail), lalu siapapun yang mengacungkan tangan terlebih dahulu dipersilakan menjawab pertanyaan tsb di depan kelas.  Jika sang murid bisa menjawabnya dengan tepat, maka murid-murid lain yang duduk satu lajur dengannya boleh meninggalkan kelas terlebih dahulu.  Dan jika sang murid mendapat kesulitan dalam menjawab pertanyaan, maka murid-murid yang duduk satu lajur dengannya diperbolehkan membantu.

Saya masih ingat ketika kuis ini perdana digelar, sayalah yang mendapat kesempatan pertama maju ke depan kelas.  Pertanyannya mudah saja: sebutkan masing-masing hasil perkalian 1 sampai dengan 10.

1 x 1 = 1, 1 x 2 = 2, dst saya ucapkan dengan lantang.  Setelah 1 x 10 = 10 saya berhenti lalu melirik pak Hidayat.

Beliau tertawa lalu bilang, “Teruskan ke perkalian 2, lanjut hingga perkalian 10.”

Oh, saya kira sudah selesai, ternyata masih banyak hasil perkalian yang harus diucapkan.  Beruntung saya sudah hafal.  Tanpa ragu saya kembali mengucapkan hasil perkalian dengan lantang.

Memasuki perkalian 7 ke atas mulut saya sudah kering sehingga beberapa kali ucapan saya tersendat.  Pak Hidayat tertawa melihat saya acap kali menelan ludah untuk melumasi tenggorokan.  Mungkin dikiranya saya bakal menyerah, tapi tak akan.

Pada akhirnya saya berhasil menunaikan tugas dengan sempurna.  Gegap gempita seisi kelas merayakan keberhasilan tugas perdana ini, dan saya nyaris merasa bagaikan pahlawan yang sedang dielu-elukan.

Kuis seperti ini selalu diadakan setiap hari, materi pertanyaannya pun acak dari semua mata pelajaran, sehingga mau tak mau membuat kami harus selalu siap sedia setiap saat.  Kami jadi lebih giat belajar, jauh lebih tekun dibandingkan semasa kelas satu hingga kelas lima dahulu.

Lantas apakah setelah kuis maka kami bisa langsung pulang?

Jangan senang dulu, tergantung jadwal piket kebersihannya.  Jika di kelas lain jadwal piket cuma dilakukan sekedarnya di pagi hari, maka pak Hidayat menyuruh kami kelas enam bertugas piket dua kali dalam sehari, yakni sebelum dan seusai jam sekolah.

Jika biasanya tugas piket hanya terdiri atas menyapu kelas dan membersihkan papan tulis, maka di bawah pengawasan pak Hidayat deretan tugas kami bertambah.  Meja-meja dilap sementara laci-laci dibersihkan.  Kursi-kursi dibersihkan lalu dinaikkan ke atas meja.  Lantai disapu hingga bersih kemudian di-pel (airnya kami timba sendiri dari sumur di kebun).  Pintu dan jendela dilap, termasuk kaca jendela yang dibersihkan dengan kertas koran basah.  Papan tulis dibersihkan dengan lap basah, kapur tulis diganti dengan yang baru, penghapus dibersihkan dari debu.  Taplak meja guru bila perlu diganti dengan yang bersih (sementara taplak meja yang kotor dibawa pulang untuk dicuci).  Gelas minum guru dan vas bunga harus diganti airnya setiap hari.  Bunga-bunga segar dipetik setiap pagi dari pekarangan sekolah dan ditaruh di vas bunga.

Semua ini kami lakukan dua kali dalam sehari.

Hasilnya suasana kelas kami selalu apik resik, semarak oleh harum bunga.  Lantai kelas pun bersih dan licin karena selalu di-pel dua kali sehari, bahkan untuk duduk atau tidur-tiduran di lantai pun terasa nyaman.

Bukan cuma ruang kelas, bahkan koridor di depan kelas kami pun turut bersih cemerlang.  Sungguh nyata terlihat perbedaannya dengan koridor kelas lain yang kotor.

Tanpa disuruh, akhirnya menjadi adat kebiasaan kami (para murid, guru, dan bahkan kepala sekolah) untuk selalu membuka sepatu sebelum melangkahi koridor kelas enam dan masuk ke dalam ruang kelasnya.

Kedisiplinan pak Hidayat dalam menjaga adab kebersihan ini sungguhlah menjadi suri tauladan bagi kami dan seisi penghuni sekolah.

Saya pribadi bahkan merasakan hal positif lain, yaitu munculnya sense of belonging.  Kami semua merasakan inilah ruangan kami.  Kelas kami adalah rumah kami.  Nyaman dan menyenangkan.

Sebagai wali kelas, pak Hidayat juga mampu mengayomi kami.  Dia tahu bagaimana menghadapi karakter anak didiknya satu persatu.  Dia tahu cara menangani saya yang pemalu sekaligus keras kepala ini dengan baik.  Cuma karena bujukan beliaulah saya berani mewakili sekolah sebagai dokter cilik, atau sebagai duta SKJ (Senam Kesegaran Jasmani).

Beliau juga memberi kami bimbingan ‘tari jaipongan’ (beliau menyuruh adik kelas yang jago menari untuk mengajari kami dan beliau mengawasi) karena untuk ujian praktek kesenian, tiap murid harus menarikan tarian tradisional, dan kami semua kompak memilih jaipongan.  Atau tepatnya kami tak punya pilihan, dan pak Hidayatlah yang memberi solusi.

Sewaktu pengumuman kelulusan, beliau rela menyambangi rumah anak didiknya satu persatu, hanya untuk menyampaikan surat tanda kelulusan serta mengucapkan selamat.

Pak Hidayat adalah ayah kami.

Maka tak heran ketika tiba masa meninggalkan SD, kami semua murid kelas enam menangis karena harus meninggalkan pak Hidayat.  Harus meninggalkan ruangan kelas kami yang nyaman.  Harus meninggalkan kebersamaan ini.  Harus meninggalkan keluarga kedua kami.

Saya tak ingat apakah pak Hidayat ikut menangis ketika kami menyalaminya satu persatu.  Mata saya terlalu berkabut untuk melihatnya.  Saya cuma ingat bahwa masing-masing kami memberinya bingkisan kenang-kenangan.  Orangtua saya membungkuskan saya dua helai kain yang mudah-mudahan bisa beliau jahit menjadi setelan safari sebagai seragam favoritnya.

Memasuki SMP, sebagian kami berpencar karena diterima di sekolah yang berbeda-beda.  Meskipun saya masuk di SMP favorit, tapi sungguh berat beradaptasi di lingkungan yang sama sekali berbeda ini.

Tak ada yang mengawasi tugas piket.  Tak ada yang menemani dan membimbing kami seharian dalam kelas, karena di SMP ini tiap mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda.  Wali kelas kami yang baru terasa jauh di awang-awang.  Bahkan semangat belajar saya bisa dibilang mengendur karena tak ada permainan kuis di akhir jam pelajaran.

Yang utama adalah, tak ada ruang kelas yang bisa kami sebut ‘rumah’, dan tak ada sosok ayah yang mengayomi.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan SMP kami, masalahnya mungkin cuma ‘gegar budaya’ dan adaptasi.  Kami tiba-tiba keluar dari zona nyaman.

Belum lagi kami terbiasa dengan lingkungan sekolah yang baru, tiba-tiba saja datanglah berita mengejutkan itu.

Pak Hidayat meninggal, kecelakaan!

Jika selulus SD kami menangis karena harus meninggalkan pak Hidayat, maka di SMP ini kami kembali dalam lara karena pak Hidayatlah yang meninggalkan kami.  Untuk selamanya.

Masalah beliau wafat karena kecelakaan mungkin adalah hal yang bisa kami hadapi dengan tabah.  Namun kabar miring yang menyebutkan beliau terlibat skandal adalah sungguh di luar nalar kami, anak-anak belia belasan tahun yang belum mengenal dunia dan cuma mengenal beliau sebagai sosok idola tanpa cela.

Belum pulih dari duka kehilangan pada saat itu, kemudian datang lagi kabar lain.  Pak Hidayat muncul kembali!  Kabar itu muncul begitu mengejutkan di suatu pagi: pak Hidayat tiba-tiba muncul di gerbang SD kami, memperhatikan murid-murid yang tengah senam pagi.  Konon mukanya terlihat bersih bersinar dan pakaian safarinya tampak licin berkilau.  Ia tersenyum lebar.  Lalu kemudian menghilang.

Saksi dari kejadian ini adalah seisi sekolah yang tengah berada di halaman!

Kami, mantan muridnya yang sudah SMP, tentu saja tidak dapat menyaksikan kejadian tsb.  Antara percaya tak percaya, namun hal itu kemudian sempat lama menjadi bahan perbincangan kami.  Harap kami semoga saja arwah beliau tenang di sisiNya.

Aamin.

Namun kelak kami, atau saya pribadi tepatnya, pun dapat menarik hikmah dari peristiwa tersebut.  Pak Hidayat adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Saya berpegang teguh pada pepatah bijak: hate the sin, love the sinner.  Tak peduli kesalahan apa yang beliau perbuat di luar predikatnya sebagai guru, kami tetap dapat merasakan kasih sayang dan dedikasinya yang besar bagi kami para anak didiknya.

Tanpa ragu kami akan tetap menyayangi dan menghormatinya sebagai guru dan ayah terbaik.


24.9.12

The Reds



IALAH persekutuan warna yang menjadi sandang pemersatu kami (dan sama sekali tiada hubungan dengan klub pecinta sepakbola di negeri sana).

Senang rasa berjumpa dengan sosok-sosok yang selama ini wara-wiri di layar vitual dalam bentuk headshot dan tulisan. Berawal dari rasa solidaritas yang sama akan pembubaran blogger MP, membuat kami malah semakin akrab satu sama lain (dan bahkan beberapa orang malah bersua pada hari itu juga walaupun belum berkontak di dunia maya).

Pada akhirnya, pembubaranlah yang mempersatukan.


\(^v^)/




Ardi-Bimo-Rama-TJ-Echan-Inggrid

Diduk-Riswan-Ancha-Ananta-bakmiayampedas-Badai