...
Awalnya kau pintaku datang, memelas karena dikejar waktu, dan meminta dibuatkan dua buah desain begini begitu. Pada mulanya saya enggan karena waktu yang terbatas. Namun setelah beberapa penyesuaian (dan melihat betapa tak berdayanya dirimu di bawah kejaran deadline), akhirnya kita pun sepakat berkongsi.
Saya sudah dua kali menanyakan tentang perjanjian kerja, dan sudah dua kali pula kau yakinkan saya bahwa hal itu bisa diatur belakangan. Deadline sudah didepan mata. Apalagi kau pastikan bahwa dirimulah yang memegang proyek ini. Dan saya percaya.
Itulah kesalahan saya.
Jangan pernah percaya siapapun, termasuk teman baik, untuk urusan bisnis tanpa hitam di atas putih. Hukumnya mutlak.
Demikianlah, cuma dalam tiga hari saya menuntaskan pekerjaan darimu terlebih dahulu. Lengkap dengan 4 buah bonus desain hasil pengembangan dari materi dasar yang kau inginkan.
Plus logo perusahaan yang saya perbaiki dalam format freehand, jpeg dan png sekaligus, karena sebelumnya kau cuma punya format jpeg in poor quality. Semuanya saya lakukan tanpa pamrih, karena kau teman baik saya.
Serah terima pun dilakukan, yang mestinya dilanjutkan pembayaran tunai. Ternyata kemudian katamu dana belum cair, jadi honor saya belum bisa dibayarkan. Ya sudah, saya percaya saja. Pesan saya, kasih kabar saja kalau uangnya sudah ditransfer.
Seminggu lebih berlalu ketika kau kabari bahwa dari dua materi desain yang dipesan, cuma satu buah yang akan dipakai, jadi honor saya cuma dibayarkan setengah. What???
Mestinya kan kalau sudah pesan dua loyang chocolate devil, ya pemesan tetap harus bayar seharga dua loyang dong (itu sih sudah resiko pemesan kalau yang satu loyang mau termakan atau tidak). Kan logikanya begitu.
Kecewa memang, tapi berhubung tak ada bukti tertulis, maka saya tidak mau memperpanjang masalah. Walau bagaimanapun kau teman baik saya. Lagipula kau bilang pembayaran akan dilakukan secepatnya.
Seminggu lebih kembali berlalu ketika iseng saya cek rekening, ternyata ada uang masuk sejumlah seperempat honor yang kau janjikan. Merasa tidak yakin, saya coba konfirmasi pada dirimu. Tanpa beban kau bilang, kantormu akhirnya memutuskan cuma memakai satu dari 4 buah bonus desain yang saya buat. Jadi saya cuma dibayarkan seperempat.
Padahal saya sama sekali tidak mengenakan charge tambahan untuk bonus desain, yang saya minta awalnya cuma pembayaran untuk dua buah desain utama sesuai pesanan. Jadi dengan kata lain, jika saya memberi bonus 10 buah desain, dan cuma dipakai satu, maka saya cuma dihargai sepersepuluh dari kesepakatan harga, begitu?
That's it! Perhitungan macam mana ini? Benar-benar pelecehan profesi.
Saya tahu intonasi suara saya meninggi sewaktu berkonfrontasi mengenai hal ini.
Entahlah, mungkin kau tersinggung, ikut marah, ikut kesal, ikut bersalah, saya tidak tahu. Tapi yang jelas sejak saat itu kau tidak bisa lagi dihubungi.
Sebenarnya saya bisa datang ke kantormu, dan meminta kejelasan masalah ini. Tapi kedudukan saya lemah karena tiada bukti hitam di atas putih. Lagipula saya tahu pasti kau akan menanggapi kedatangan saya dengan kepala tidak dingin sehingga intonasi suaramu akan meninggi dan mukamu yang putih itu akan memerah dan rekan2 sejawatmu akan memerhatikan dan petugas sekuriti akan berdatangan, jadi saya putuskan untuk tidak bertandang ke sana. Tidak lagi.
...
Padahal teman, masalah honor itu kini sudah saya ikhlaskan. Saya sudah mendapat pelajaran dari kesalahan. Biarlah Yayasan Sosial tempat kau bekerja itu mendapat berkah biar bisa terus berderma.
Saya cuma mau kau tahu, saya sedih karena niat baik untuk membantu dirimu malah berujung pada retaknya pertemanan kita.