Showing posts with label kilaskisah. Show all posts
Showing posts with label kilaskisah. Show all posts

30.7.12

[Xenophobia] Monster

[I]


Namanya Marcell.  Ia adalah hal yang paling tidak diinginkan di muka bumi.  Mungkin.


Terlahir ke bumi dalam situasi dan kondisi dimana hanya Tuhan yang tahu maksudnya.  Dalam tubuhnya mungkin mengalir darah murni peninggalan beberapa generasi di atasnya, namun gen 'kampung' tampak lebih mendominasi penampilan.  Ia tampak aneh dan terasing.  Dan orang-orang selalu melihatnya sebagai 'bukan sesuatu' yang layak diperhatikan atau mungkin bahkan harus dihindari.


Kami pun termasuk dalam golongan kebanyakan yang semula tak mengacuhkan keberadaannya.  Bagaimana tidak, ia selalu tampak merana di sudut ruangan, membuat kami mengira sang majikan pemilik toko tentu menghukumnya karena ia telah berbuat salah.  Atau karena ia jelek.  Bisa saja penampilan lusuhnya membuat calon pembeli enggan mampir.


Setelah beberapa kali kunjungan, perhatian kami mulai terusik ketika sang pemilik toko bilang hendak mendepaknya keluar.  Pada saat itulah kami tersadar bahwa ada makhluk ciptaan Tuhan yang selama ini terabaikan padahal kami selalu lalu lalang di depan hidungnya.


Sapaan ramah dan tepukan di kepala sungguh membuat perbedaan besar.  Bola matanya yang biasanya redup kini mendadak hidup.  Tubuhnya menggeliat, lalu ekornya mulai berkibas.  Terpesona kami, seakan ada suatu energi yang kini menyedot perhatian.  Abaikan penampilan luar, sesungguhnya ia adalah sosok yang menarik dan menggemaskan.


Beberapa lembar rupiah, dan ia pun berpindah tangan.



[II]


Teman saya baru pindah rumah ke daerah pinggiran Jakarta yang padat penduduk.  Sebagai seseorang yang bekerja di bidang desain interior ia bisa menyulap rumah kecilnya menjadi terasa lapang dan nyaman.  Tak lupa dibuatnya sebuah kolam kecil di teras depan dan diisinya dengan sejumlah ikan koi.


Pada suatu hari, didapatinya kolam kecilnya sudah hampa.  Ikan-ikan koi miliknya raib.  Gemercik air mancur cuma menimbulkan riak-riak kosong di kolam yang melompong.  Para tetangga cuma berkata ompong, tiada info yang menolong.  Teman saya pun terbengong-bengong.


Usaha kedua, dibelinya lagi ikan-ikan koi yang baru.


Tak butuh waktu lama, para maling pun dengan senang hati bertandang kembali menguras isi kolam.  Teman saya naik pitam, memaki-maki pagar tembok yang bisu.  Saya tahu, sebenarnya ia tengah mengutuk para pencuri yang dicurigai berasal dari daerah sekitar yang mengetahui kapan rumahnya sedang kosong.


Teman saya kuatir lama kelamaan bukan hanya ikan koi yang dijarah.  Ia tahu ia butuh penjaga.



[III]


Namanya Marcell.  Nama itu meluncur begitu saja dari mulut teman saya.  Beberapa lembar rupiah telah berhasil menyelamatkan Marcell.  Teman saya sedang butuh penjaga, dan menurutnya Marcell paling pantas melakoni tugas ini.


Maka diboyonglah Marcell.  Dibuatkannya pos jaga tepat di balik pagar tembok, agar siapapun kelak yang coba-coba melompat masuk akan mendapat sambutan selamat datang dari sang penjaga.


Usaha yang ketiga, kolam kecil di teras depan rumah teman saya sudah kembali dihuni oleh ikan-ikan koi baru.  Marcell menjalankan tugasnya dengan baik.  Ia memang tak bisa kemana-mana selain mondar-mandir di dalam pos jaga, namun kehadirannya mampu membuat ikan-ikan koi tetap tinggal damai di kolamnya.  Teman saya merawat Marcell dengan baik.  Kini sosoknya lebih gemuk dan penampilannya lebih segar.  Marcell memang galak pada hal yang masih asing baginya, namun di sisi lain ia selalu menyambut siapapun yang dikenalnya dengan ekspresi riang dan ekor yang berkibas-kibas.


Di kemudian hari, datanglah pak RT menemui teman saya (saya tak tahu apakah pak RT datang dengan takut-takut karena disambut dengan galak oleh Marcell).  Pada intinya, beliau menyampaikan keberatan warga atas hadirnya Marcell di lingkungan mereka.  Bahwasanya Marcell telah menakut-nakuti warga dengan 'bunyi peringatan' dari mulutnya.  Bahwa anak-anak jadi takut melewati gang depan rumah karena takut rabies, bahwa ibu-ibu kehilangan tukang sayur dan tukang bakso langganan yang tak berani lewat gang depan rumah, dan (alasan paling bodoh menurut saya) adalah: "Bapak-bapak dan segenap warga jadi tak bisa ke masjid karena harus lewat gang depan rumah.  Bukankah itu jadi haram hukumnya?"


Kemudian balon-balon dialog pun kosong.


Saya bisa bayangkan andaikan ada bunyi jangkrik pastilah derik suara mereka ramai mengiringi percakapan hampa.  Teman saya yang temperamental pastinya sibuk menahan emosi yang hendak meledak.  Pak RT yang salah tingkah pastilah sibuk mencari kata-kata yang lenyap.


Saya sendiri tak habis pikir akan keberatan warga.  Bayangkan, selama ini Marcell berjaga dalam kandang berteralis.  Pos jaganya terletak di dalam halaman berpagar tembok.  Pagar tembok itu cukup tinggi memisahkan Marcell dan gang depan rumah.  Siapapun yang lewat (terutama jika menimbulkan bunyi-bunyi mencurigakan) tentu akan mendapatkan 'alarm peringatan' dari Marcell.  Tapi cuma itu.  Marcell sama sekali tak bisa menyentuh atau mencelakakan siapapun yang lewat gang depan rumah.  Omong kosong jika mereka takut najis, karena Marcell selalu terkurung dalam pos jaganya.  


Lantas darimana fatwa yang menjadikan gang depan rumah ini haram untuk dilewati?  Dimana logika?  Oh, mereka tak perlu logika, melainkan cukup sembarang tafsir dari ayat kitab suci, demikian penuturan teman saya kemudian ketika menceritakan kembali peristiwa itu pada saya.


Lantas apa yang terjadi kemudian, tanya saya penasaran.


Tak ada, kata teman saya.  Saking emosi saat itu, ia malah kehilangan kata-kata.



[IV]


Berhari-hari kemudian, setelah pemikiran panjang dan berdiskusi dengan ibu tercinta dan beberapa teman dekat, akhirnya teman saya pun mengambil keputusan penting.  Marcell harus keluar.  Supaya gang depan rumah kembali steril dan (sungguh rasanya berat untuk menuliskan hal ini) tidak haram untuk dilewati warga.


Menurut saya, warga sekitar belum terbiasa dengan sosok asing seperti Marcell.  Ketakutan mereka semu, rasa ngeri yang bahkan belum jelas ancamannya apa.  Akibat paranoid berlebih itulah warga pun mencari cara menyingkirkan 'monster' tsb dari hidup mereka (padahal saya yakin sebagian besar dari mereka belum pernah melihat penampakan sang 'monster' yang aslinya mungil tsb, melainkan hanya mendengar suaranya sesekali saja).  Jika Marcell cuma galak di awal dan jinak kemudian, maka warga sekitar ini takut di awal dan malah menghakimi kemudian tanpa mencari tahu lebih lanjut.  Tak ubahnya sebuah twit nyinyir yang malah di-amin-i massa tanpa mencari tahu latar belakangnya.  Dan itu menjadikan mereka seakan-akan lebih 'monster' dibandingkan Marcell sendiri.


Bagaimanapun, teman saya tak ingin rumahnya dikepung dan dirusak massa jika ia berkeras mempertahankan Marcell.  Dalam hal ini, ia harus bertoleransi lebih dan lebih dengan warga sekitar (meskipun sebenarnya ia ingin meledak atas ketidakadilan ini).  Yang waras ngalah, demikian petuah sang ibu.  Perkara ini butuh toleransi, bukan emosi.


Beruntung ada seorang teman lain yang tak keberatan menampung Marcell.  Kami masih bisa mengunjunginya kapanpun.  Teman saya sampai bertekad bahwa kelak ia akan pindah rumah ke lingkungan yang lebih bertoleransi tinggi sehingga dapat berkumpul kembali dengan Marcell.


Sepeninggal Marcell, teman saya pun menyingkirkan ikan-ikan koi dari kolam, lalu memasang alarm elektronik di segenap penjuru rumah.  Alarm elektronik memang tak bisa diajak berinteraksi, namun setidaknya cuma itu usaha maksimal yang bisa ia lakukan.



[V]


Namanya Marcell.  Sepertinya ia memang harus menerima nasib menjadi hal yang paling tidak diinginkan di muka bumi.  Dimanapun.


Suatu hari kabar buruk itu datang.  Marcell ditemukan terbaring kaku dengan mulut berbusa.  Ia mati diracun.  


Siapakah monster sebenarnya, Marcell?


Sedih kami tak terperi, mengingat jalan hidup Marcell yang (hampir) selalu berada dalam kemalangan.  Namun di sisi lain ada lega terbersit, karena sosok kami pernah terpantul di bola matanya yang berbinar-binar, walau cuma singkat saja.  Mungkin sudah saatnya kini ia menemukan tempat di atas sana dimana ia merasa diinginkan.  Semoga.




Marcell sekilas wajah (foto koleksi pribadi)




Written based on true story for the writing competition about [Xenophobia]


23.12.11

The Only Bookworm I Knew

Beberapa hari lalu saya membuka kembali simpul memori masa sekolah.  Melalui Facebook, saya membaca notifikasi ulang tahun salah seorang teman SMA.  This birthday boy (sebut saja namanya Kumbang) punya keunikan tersendiri yang bikin saya terkenang kembali akan masa-masa sekolah.


Kumbang: "Ada anak baru di kelas sebelah, alamak bening banget!"
Srek!
Nyammmmm!


Kumbang: "Tadi bis dicegat anak STM ngajak tawuran, gw sih ngumpet aja di jok belakang!"
Srek!
Nyammmmm!


Kumbang: "Lihat buku paket lo yang baru deh!"
Melati: "Eh, jangan-"
Srek!
Nyammmmm!
Melati: "Hiks, mamaaaaaa!"


Hohoho, demikianlah Kumbang.  Ia seorang kutu buku, dalam artian sebenarnya: pemakan kertas!  Kapanpun.  Dimanapun.  Kemana-mana selalu ngemil buku, lembar demi lembar.

Buku-buku miliknya tiada yang utuh (mulai buku tulis, buku pelajaran, buku gambar, notes, sampai lembar ujian) karena semuanya kerap dijadikan kudapan ringan.  Biasanya ia memulai dari lembaran paling belakang yang masih kosong, sedikit demi sedikit.  Setelah lembaran paling belakang habis, berlanjut ke lembar berikutnya.  Jika menemukan lembaran yang sudah ada tulisannya, maka ia cuma menyantap sudut-sudut halamannya saja.  Walhasil buku-buku miliknya tak ada yang tampil cantik dan mulus.

Pun ketika sedang mengobrol dengan Kumbang, pada saat mulutnya sibuk mengulum-ngulum serpihan kertas, kita tetap harus ekstra waspada menjaga properti masing-masing.  Karena kalau lagi sakaw, Kumbang tak peduli buku siapapun yang ada di dekatnya pasti bakal langsung dicemil olehnya.

Tapi kami tiada yang pernah merasa sangat-sangat terganggu dengan kebiasaannya ini.  Toh walau bagaimanapun, Kumbang itu kocak, baik, seru, rame.  Dan sepanjang ingatan saya, guru-guru tidak ada yang tahu sama sekali soal ini.  Mungkin mereka cuma sedikit heran saja kenapa buku milik Kumbang (dan sebagian milik teman sekelasnya yang jadi korban) pasti ada saja yang bocel-bocel.   

Sayang sejak lulus SMA kami baru sekali bertemu, pada saat dia baru lulus dari pendidikan kepolisiannya.  Itupun pertemuan yang singkat saja dan kami tak sempat mengobrol banyak.

Kini Kumbang sedang bertugas di pulau seberang, dan meski saya tergelitik untuk mengetahui apakah dia masih punya hobi makan kertas atau tidak, tapi akhirnya saya putuskan untuk menyimpan saja hal itu dalam slot memori.  Mungkin, kelak saya akan menanyakannya langsung jika kami bertemu kembali.

Kali ini cukuplah dengan tulisan di wall-nya:

Selamat ulang tahun, hei kutu buku! ^^


9.10.11

Little Death [part 2]

kau bersama mereka . aku bersama yang lain

bagai tertera dalam naskah
kau menoleh . aku menoleh

demi masa . beberapa detik itu
mata kita . jendela hati aku dan kau
saling memindai satu sama lain

tak ada titik antara kau dan aku
ya, sayangnya . tiada titik
yang dapat hentikan pencarian

meski inginku memilin . menjalin . bertaut . berpagut
meski inginku kau pun ingin
tersesatku walau sesaat

ditarik teman kau pergi . ditarik kesadaran aku kembali
kau berbalik . nanar kutatap punggungmu
aku tak tahu apa kau tahu kalau aku menatapmu

kau sederhana . kau nyata
lebih indah dari sosokmu di layar kaca dan maya
tenggelamku dalam euphoria

[minggu sore . pelataran parkir tujuh sebelas . how i adore you now]

25.11.10

Hobbit & Guru-Gurunya

Kali pertama masuk SD saya disambut oleh sosok seorang guru yang tampak ramah dan keibuan.  Ibu Mei namanya.  Berwajah bulat, berkacamata, berambut ikal keemasan.  Saya sudah samar akan detail wajahnya, tapi yang tak pernah lekang dalam ingatan adalah air mukanya yang selalu berbinar.  Jika saya hobbit, maka bu Mei adalah Galadriel, ratu peri penguasa Lothlórien.  Ia memberi saya bekal cahaya bintang Earendil yang kelak menerangi perjalanan hidup saya selanjutnya.  Bekal itu berwujud kemampuan membaca & berhitung.  Ia yang memberi saya tuntunan belajar mengenali deret huruf dan angka.  Dengan kuasanya, ia memberi saya naungan di dalam ruang kelas yang teduh oleh rimbun pohon durian & nangka.  Kami selalu betah menghabiskan jam pelajaran disana, bersamanya.





Tahun terakhir di SD saya terkagum pada guru agama merangkap wali kelas kami.  Pak Hidayat namanya.  Bagi saya yang sekecil hobbit, ia adalah Gandalf si jangkung.  Beliau adalah mentor rohani kami sekelas, humoris, namun juga tegas.  Jangan bayangkan pak Hidayat sebagai aki-aki bersurban dan berjanggut putih, salah besar.  Ia adalah seorang bapak muda, masih gagah, berwajah klimis dengan rambut yang selalu rapi dan licin berminyak, serta gemar berpakaian safari full-pressed-body.  Tulisan tangannya indah, dan beliau selalu kebagian tugas sebagai juru tulis untuk piagam-piagam kenaikan kelas di sekolah kami.

Usai jam pelajaran sekolah, pak Hidayat selalu mengadakan kuis, siapapun yang bisa menjawab di depan kelas maka murid-murid yang duduk sebaris dengannya boleh meninggalkan kelas terlebih dahulu.  Kuisnya pun acak dari semua mata pelajaran, sehingga mau tak mau membuat kami harus selalu siap dengan materi yang sekiranya akan ditanyakan.  

Lantas apakah kami bisa langsung pulang?  Hohoho, tergantung jadwal piket kebersihannya.  Jika di kelas lain jadwal bebersih cuma dilakukan sekedarnya di pagi hari, maka pak Hidayat menyuruh kami bertugas dua kali, sebelum dan seusai jam sekolah.  Bukan cuma sapu-sapu, tapi juga termasuk mengepel lantai, membersihkan meja, kursi, jendela, dan papan tulis, mengganti air minum, mencuci taplak meja, serta mengisi vas dengan bunga segar setiap hari.  Bunganya cukup dipetik dari pekarangan sekolah.  Hasilnya suasana kelas kami selalu apik resik, semarak oleh harum bunga.  Lantai kelas kami bersih dan licin karena selalu di-pel dua kali sehari, bahkan untuk duduk atau tidur-tiduran pun terasa nyaman.  Tanpa disuruh, akhirnya menjadi adat kebiasaan kami untuk selalu membuka sepatu sebelum masuk kelas.

Kedisiplinan beliau sungguhlah menjadi suri tauladan bagi kami dan seisi penghuni sekolah.





Selulus SD, kami semua menangis karena harus meninggalkan pak Hidayat.





Di tahun pertama SMP, kami menangis lagi karena pak Hidayat-lah yang meninggalkan kami.  Ia pergi untuk selamanya.  

Pahlawan kami, Gandalf, telah tiada, jatuh ke dalam kegelapan tak berujung Moria.  Meskipun ada berita tak sedap berhembus (bahwa pak Hidayat ketahuan berselingkuh, lalu bertengkar dengan istrinya, lalu beliau pergi diiringi sumpah serapah istrinya agar 'mati saja kau sekalian!', lalu beliau pun mendapat kecelakaan lalu lintas), namun bagi kami, khususnya saya, pak Hidayat adalah sosok guru idola sepanjang masa.





Duduk di bangku SMP, kami harus beradaptasi dengan guru berbeda untuk tiap mata pelajaran, dan berjuang dengan perubahan kimiawi tubuh.  Ketertarikan pada guru mulai terpengaruh oleh hormon.  Guru praktek yang masih muda terasa lebih menarik dibandingkan pengajar tetap yang rata-rata sudah berumur.

Di sini pula saya mulai mengenal bermusuhan dengan guru.  Sebut saja namanya ibu Janda Hitam, beliau mengajar PKK.  Setiap tiba jam pelajaranya, keringat dingin saya selalu mengucur.  Saya lupa pemicunya, tapi yang jelas ia selalu nyinyir sama saya, tatapan mata, air muka, serta kata-kata yang terlontar dari mulutnya sungguhlah racun yang mematikan.  Ia tak ubahnya Shelob, laba-laba raksasa penghuni Cirith Ungol yang nyaris membinasakan Frodo dengan perangkapnya.  Untunglah beliau cuma mengajar PKK, sehingga saya tak terlalu memusingkan jika ia menekan nilai saya di rapor.

Tak ada yang spesifik menjadi guru favorit saya selama SMP, yang paling mendekati mungkin ibu Tuti, pengajar bahasa Inggris.  Karena beliaulah saya jadi menyukai bahasa Inggris, dan Alhamdulillah ilmunya tetap terpakai sampai sekarang.  
Ibarat kata, beliau adalah sosok ibu perinya Cinderella yang menembus dimensi hingga Cirith Ungol untuk menyelamatkan sang hobbit yang terperangkap.

Guru-guru yang lain cuma mengambil hati saya secara sambil lalu saja.  Pak Adang, guru olahraga, ibarat Gimli dengan kapaknya.  Pendek dan galak.  Kami sekelas pernah digampar satu-satu olehnya.  Tapi saya tidak membencinya, malah salut dengan ketegasannya.  Ada pula ibu Kristin, guru paling bawel seantero jagat.  Beliau selalu memulai pelajaran bahasa
Indonesianya dengan memberikan panduan singkat: 'duduk yang tegak-buka halaman buku tanpa suara-dilarang memainkan pulpen-jangan ini-jangan itu-dilarang ini-dilarang itu-bla bla bla'.  Semua diucapkan dengan kecepatan & ketepatan artikulasi mulut seorang rapper handal.  Ia adalah Lil' Kim di Shire.  Dicerca namun dicari.





Tanpa diduga, Gandalf muncul kembali!  Kabar itu muncul begitu mengejutkan: pagi itu pak Hidayat muncul di gerbang SD kami, memperhatikan murid-murid yang tengah senam pagi.  Konon mukanya terlihat bersih dan pakaian safarinya tampak licin berkilau.  Ia tersenyum lebar.  Lalu kemudian menghilang.  Saksinya adalah seisi sekolahan yang tengah berada di halaman!

Kami, mantan muridnya yang sudah SMP, tentu saja tidak dapat menyaksikan kejadian tsb.  Antara percaya tak percaya, namun hal itu kemudian sempat lama menjadi bahan perbincangan kami.  Harap kami semoga saja arwah beliau tenang di sisiNya.  

Amin.





Masuk SMA, saya langsung mendapatkan wali kelas yang muda-cantik-perawan dan berbudi pekerti luhur.  Ibu Erna namanya, pengajar matematika.  Wajahnya terlihat segar dengan bibir merekah dan mata besar, berambut ikal sebahu, berkacamata, dan bersuara merdu bak buluh perindu.  Ia adalah Lady Arwen, peri jelita pemikat hati Aragorn, atau bagi siapapun yang pernah menjumpanya (terutama kami hobbit-hobbit muda canggung berjerawat).  Tindak tanduk beliau yang santun dan terpelajar membuat kami tak berani berbuat kurang ajar kepadanya.

Tahun kedua di SMA, asa kami pupus sudah ketika Lady Arwen akhirnya menerima lamaran Aragorn.  Ia kan menyerahkan 'mahkota'-nya kepada lelaki brewok itu.  Saya ingat hari itu adalah hari patah hati sedunia bagi hobbit-hobbit di sekolah kami.  Hingga seminggu kemudian mading pun selalu penuh dengan puisi menye-menye.





Di masa ini, saya pun mulai mengenal cinta terlarang di sekitar saya.  Cinta antara murid dan guru (klise-lah, akhirnya selalu bisa ditebak).  Ada pula cinta antara guru dan guru, yang kebetulan berbeda keyakinan.  Pak guru mengaji, dan bu guru kebaktian.  Keduanya saling jatuh cinta, namun tetap teguh kukuh dengan keyakinan masing-masing.  Bahkan kabarnya hingga kini keduanya masih menjalin kasih, tanpa melanjutkan ke jenjang pernikahan.  Do you think it's a sad story or the opposite?





Ibu Elin bisa dibilang salah satu guru yang tegas dan berani.  Jika guru biologi enggan membawa contoh peraga untuk bab reproduksi manusia, maka sebagai guru Pancasila bu Elin tak sungkan membawa contoh alat-alat kontrasepsi, termasuk di antaranya spiral dan kondom.  Beliau juga membawa alat peraga (lupa namanya) yang digunakan dengan cara memasukannya ke vagina, lalu tugasnya mengobok-obok sesuatu disana.  Belum pernah ada pelajaran Pancasila semenarik ini!

Dan cuma ibu Elin seorang yang memanggil saya dengan nama belakang.  Sungguh, itu sanjungan bagi saya, mengingat saat itu saya adalah hobbit kutu buku yang tidak populer dan belum tentu semua guru mengetahui nama lengkap saya.  Dan sebagai komplimen, saya anggap ibu Elin sebagai titisan Legolas, si jago panah bak Srikandi yang selalu siap mengawasi & melindungi.  Hahaha, cuma Legolas yang ini perempuan mungil, berkerudung, dan berlogat Sunda Bogor!  Bu Elin, saya kangen!





Selamat Hari Guru!





*salim*

8.7.10

Ayah Gagah


SYAHDAN
, tersebutlah dua orang pemuda, lusuh-keringat-muka berminyak, sedang terduduk kecapekan di lantai.  Keduanya tampak tersembunyi di balik tumpukan sepatu obralan di arena Pekan Raya Jakarta.  Mereka tengah rehat sejenak, dan membiarkan dua perempuan mereka tetap aktif berkeliling.


Lalu muncullah

seorang
lelaki
gagah

menggandeng seorang bocah perempuan.  Lelaki itu tampak berwajah segar, berperawakan kekar, dan berkaos ketat.  Sesekali ia bercanda dengan si bocah.  Siapapun yang melihatnya pasti langsung terharu: sungguh sosok ayah ideal.


Mereka berdua menghampiri tumpukan sepatu dimana dua pemuda yang kecapekan tadi sedang beristirahat.  Si gagah langsung sibuk memilih-milih sepatu, sesekali suaranya yang berat dan berwibawa terdengar meningkahi celoteh riang si bocah.


Tak lama kemudian muncullah dua lelaki lain menghampiri salah satu tumpukan sepatu di deretan ujung.  Gerak-gerik mereka gemulai.  Mata mereka langsung tertuju kepada sosok si lelaki gagah.  Salah satunya tanpa ragu lagi langsung memanggil mesra:
"Hei cyiiiiiinnnnn!"


Si gagah menengok, raut mukanya langsung sumringah, dan serta merta memanggil balik:
"Haiiiiiiii!"
Suara bas-nya hilang begitu saja, melenceng jadi sopran bak Aning Katamsi.  Lalu berlenggang-lenggoklah ia mendekati kedua pemanggilnya.  Mereka langsung mengobrol dengan berisik.


Si bocah perempuan ditinggal sendiri, untunglah tak lama baby sitter-nya muncul dengan tergopoh-gopoh.


Dua pemuda lusuh yang sedang duduk di lantai cuma terbengong-bengong.


17.9.09

Ibran Gak Sakit Lagi


Mama
Mama..

kenapa Ibran gak bisa bangun, Ma?
kenapa mulut Ibran gak keluar suaranya, Ma?

Mama, jangan nangis
kasihan adik Abil ikut nangis
kalau semua nangis, Ibran jadi nangis juga


...


Papa
Papa..

Ibran ada dimana, Pa?
kamar ini kok putih terang
terus kenapa banyak selang di badan Ibran, Pa?
Ibran takut


...


sakit, Ma
sakit, Pa

tapi
bilangin adik Abil kalau Ibran bukan cengeng

soalnya mata Ibran kan gak bisa ditutup
makanya keluar airmata terus


...


Ma, Pa,
Ibran lagi mimpi ya?
kok gak selesai-selesai mimpinya


...


Ibran heran deh
di atas sana banyak burung putih terbang
terus ada bintang-bintang kecil keluar dari sayapnya


...


Ibran masih sakit-sakit
waktu kakek mengusap muka Ibran

rasanya hangat bagai dipeluk mama
nyaman kayak pelukan papa

terus Ibran jadi ngantuk
boleh Ibran tidur duluan, Ma? Pa?


...


Ibran tidur sama burung putih dan bintang kecil
Ibran gak sakit lagi







in memoriam of Ibran Grefalta Natanael bin Berlianes Natanael
lahir 29 Maret 2006
wafat 17 September 2009



Ibran, keponakan dari ipar saya, tiba-tiba jatuh lumpuh seminggu lalu, dan mengalami koma hingga 6 kali.  Tak ada yang tahu persis apa penyakit Ibran, bahkan 8 orang dokter yang menanganinya angkat tangan.  

Analisa yang paling mendekati adalah GBS (Guillain Barre Syndrome), dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sistem syaraf.  Kelainan ini belum diketahui penyebabnya, dan termasuk penyakit langka karena punya rasio 1:100.000

Kemarin Ibran akhirnya berpulang.  Tak ada tangis duka melainkan haru.  Ibran gak sakit lagi.

Innalillahi wa innaillaihi rajiun.
Semoga arwah Ibran diterima di sisiNya.
Amin.


15.5.09

Kan...

kan saatnya ibadah jumat
      usai kotbah, saatnya rapikan shaf tuk dirikan shalat

kan di sebelah saya masih ada ruang
      lalu muncullah pemuda itu mengambil tempat

kan shalat sudah dimulai
      ketika tercium aroma menguar
      bau tak sedap ketiak lembab

kan tadi hidung kami aman nyaman saja
      namun setibanya ia
      entah kenapa udara jadi menyengat

kan kami sudah bersidekap dalam shaf rapat
      tapi tiap ia bergerak bagai menghembuskan uap pekat
      jadilah saya, dan mungkin jemaah yang lain tak khidmat

kan tak salah jika saya melafalkan bacaan shalat
      namun benak saya bekerja keras
      mengalihkan impuls syaraf penciuman

kan otak bagai proyektor
      saya pikir laut, maka tergambar putih buih, dan biru horison
      uap asin basah dimana gen purba kita berasal
      segarkan getarkan

kan otak bagai pengelana
      saya pikir air terjun, maka bertualanglah ia kesana
      aroma lembab humus, akar basah, dan deru air
      murninya udara ledakkan dada  
    
kan otak bagai bayi
      tiba-tiba saya kangen ibu, dan rindu dalam dekapnya
      odor yang cuma bisa tercium lewat peluk hangatnya
      memori terawal yang bisa kuhirup
   
kan imam tlah mengucap salam
      maka buyarlah blokade syaraf saya
      hei, hidung saya tak apa
      tampaknya ia pun tlah terbiasa

kan saya kemudian berdoa
      Tuhan, maaf jika shalatku tak khidmat
      Tuhan, terima kasih atas ke-tak-khidmat-an tadi
                 saya jadi lebih mensyukuri punya indera penciuman yang baik
                 Kau jadikan semuanya jadi lebih bermakna
      Amin.




jumat gerah 15 mei 2009
© duabadai.multiply.com

 

14.5.09

Gigit

ibu tadi bilang:
nak, waktu kalian dulu menyusu
bukan cuma hisapan susu
tapi juga
ada gigitan bakal gigi susu


aku lalu bilang:
adakah kami menggigit putingmu, ibu


ibu lantas bilang:
ada darah
sedikit tapi


aku hilang dalam benak:
gusti, bahkan sejak kami bayi
ibu sudah kami lukai


aku tersendat bilang:
maaf, ibu


ibu melambaikan tangan sambil bilang:
semua bayi begitu


aku urung mau bilang:
adakah semua suami begitu


aku lalu membayangkan bapak menggigit ibu sebagaimana aku kelak menggigit ibu anak-anakku
bukan melulu berahi melainkan kimiawi


dan aku cuma bisa bilang:
pamit, ibu


aku cium tangan ibu, lalu mengucap salam tinggalkan rumah




hari basah 14 mei 2009
© duabadai.multiply.com

13.4.09

Blog Masa Kecil

...ternyata eh ternyata, sejak kecil saya sudah rajin membuat jurnal pribadi yang tak ada bedanya dengan aktivitas blogging sekarang ini.

Tentunya jurnal yang saya buat saat itu masih dalam taraf sederhana, kebanyakan tentang catatan keseharian, ditulis di buku agenda (biasanya jatah dari kantor bokap), dan dibuat dalam kaidah bahasa ABG Yang Disempurnakan ;p

...dan dari cuplikan agenda tsb, bisa dilihat ragam kisah dan bakat minat saya semasa kecil. Selamat menikmati!  


STALKER ULUNG


- LILLY MARLENE  Jl. Teratai Putih III/207  Klender - Jaktim
- LYDIA NATALIA  Permata Intan I Blok S-I no.2  Permata Hijau - Jaksel



Ahiak, dulu favorit banget baca tabloid Monitor sama majalah Senang
(dua2nya kreasi oom Wendo), dan saya paling rajin copas biodata artis dari media tsb ke dalam agenda.


DESKRIPTIF PERSUASIF


"Semuanya dicukur (rambutnya tentu!)."




Maksud 'semuanya' disini adalah 'kami sekeluarga'. Jadi bukan rambut di sekujur tubuh saya yang dicukur (lagian anak kecil punya rambut dimana sih kecuali kepala?).



LIHATLAH TANDA MERAH DI PIPI


"Kami sekelas ditamparin oleh Pak Adang karena ulangannya tidak segera dikumpulkan."



Pak Adang itu guru olahraga yang galak. Suatu ketika kami tidak segera
mengumpulkan lembar ujian tertulis, padahal waktunya sudah habis. Beliau ngambek lalu balik ke ruang guru, dan kami pun terpaksa menyusulnya kesana. Satu persatu habis deh kena gampar.


SI JAGO BALAP

"Pulang dari Jakarta, ngebut di Jagorawi dengan kecepatan 140 km/jam dengan lawannya Toyota Crown"




Waktu kecil demen banget kalo bokap udah ngebut di tol, such an
adrenaline rush! Dulu 140 km/jam bagi saya udah ngebut termehek-mehek. Tapi sekarang? Tjis, tetep sih kerasa ngebut ;p


PENYINTA EKSOTISME

inset: gambar wanita suku primitif berambut keriting spiral, berbibir tebal dan bergincu merah, berkalung tengkorak, bertato payung, lengan berotot, dan ber-rok rumbai






Saya menamai tokoh kartun ini: Ethi Opia. Cewek eksotis ini pernah saya buatkan komik-stripnya di halaman buku gambar. Ada yang full color, ada pula yang black & white.

(Hmmm.. jadi kepikiran tuk menghidupkan kembali tokoh Ethi Opia ini)


REPORTER HANDAL

"Terjadi musibah kemalingan. Sepatu baru dan sandal ludes. Kerugian sekitar 200 ribu rupiah"




Sepatu saya yang hilang itu baru dipakai satu kali ke sekolah. Merknya Richland (kalo ga salah), berwarna putih dengan rubber sole tebal, dan ada aplikasi Union Jack di lidah sepatunya. Pencuri
diperkirakan memanjat lewat tebing (rumah kami memang terletak di tepi sungai) dan masuk melalui jendela yang tak berkaca. Aldi Suditomo melaporkan.


CONFESSION OF A SHOPAHOLIC

9  am "Pergi ke Ramayana"
10 am "Keliling Ramayana dan Pasar Busana Matahari"




Sebenarnya papi-mami suka ngajak belanja ke Orchard, cuma bosen ah.. ;p



MOVIE FREAK

"Nonton Layar Tancap judulnya Lupus II & Dendam Membara lalu beli bakso"




Hahaha, saya sendiri lupa nontonnya dimana. Oya, kalo ga salah Dendam Membara itu yang main Chris Mitchum sama Ida Iasha. Pas ada adegan mesranya
penonton pada rame suit2, sedangkan saya (bocah imut innocent) jadi jengah dan langsung pura2 liat bintang di langit malam :D


PENULIS UNGGUL

Robby mengikuti Harry menuju kamar mandi. Di dalamnya sudah menanti beberapa budak cantik dengan pakaian minim siap memandikan sang pangeran.
"Kau tunggu saja disitu..." kata Harry.
Robby duduk termenung di sudut ruangan. Dst...


Beuh! Imajinasi sudah melampaui kepolosan seorang bocah ;p



SWADAYA BERDIKARI

"Test PKK lihat contekan, untung nggak ketahuan"




PKK nyontek??? Yang bener aje!!!




8.4.09

Pesta Rakyat, Teteh Jamilah, dan Kambing Guling

Waktu kecil, suasana kebersamaan antar warga di kampung saya terasa kental sekali. Saya masih ingat sewaktu pembangunan jembatan desa, semua warga turun bergotong royong. Pria wanita tua muda.

Saya masih ingat harum gembur tanah basah yang sedang dicangkul oleh pak Hasan, hansip desa, bersama kaum pria lainnya. Saya masih ingat teteh Jamilah, anak pak RT yang putih semok itu berkebaya cantik sekali, menyiapkan hidangan prasmanan bersama kaum wanita yang lain. Saya masih ingat alunan degung Sunda bergaung di segala penjuru.

Ketika tiba waktu makan siang, kami pun berduyun-duyun menuju meja prasmanan. Teteh Jamilah yang melayani kami. Saya terkagum-kagum akan kemolekannya. Kulitnya mulus bak porselen. Ia wangi bagai ronce melati.

Bagi kami, menu makanan yang sederhana terasa nikmat sahaja karena suasana hati yang sedang ceria. Pria wanita tua muda larut dalam senda gurau. Akrab penuh kekeluargaan.

That was then.

Namun bagi saya, itulah pesta rakyat yang sebenarnya.

Hari ini beberapa rekan sekantor sudah menyiapkan diri tuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Esok kan Pemilu. Pesta demokrasi, pesta rakyat. Dulu coblos sekarang contreng.

Dari obrolan ngalor ngidul terbersitlah definisi pesta rakyat menurut saya:
 
1. TPS tak perlu mewah tak perlu megah, tapi bersahaja dan jumawa ;p Seperti halnya dulu rakyat kerap berlomba bikin gapura semeriah mungkin, ada baiknya TPS pun dibuat cantik, biar ada kebanggan para pemilih yang nyontreng di sana. Biar jadi ajang narsis pepotoan juga, wkkk.. :)

2. Nomor KTP valid berlaku satu kali contreng. Database KPU harus sudah online, jadi siapapun dimanapun cukup menunjukkan KTPnya, petugas tinggal memasukkan nomornya ke database, voila! "Silakan pak, bu, disana bilik suaranya".

3. Sambil menunggu giliran, pemilih bisa mendapatkan cemilan ringan dan minuman gratis. Alunan musik yang menenangkan dapat diputar supaya pemilih lebih rileks dan tidak tegang sebelum menyontreng.

4. Usai nyontreng, pemilih mendapatkan kupon makan, tuk mendapatkan menu spesial pesta rakyat: KAMBING GULING!

Buat mereka yang tidak makan kambing/tidak sempat antri, bisa menukarkan kupon makan resmi ini sebagai kartu diskon di franchise restoran terkemuka di mall2 terdekat.

5. Sambil menikmati kambing guling, TPS pun dihibur oleh live music. Pengisi acara cukup band dan artis lokal saja.

Ingatan saya kembali beralih pada teteh Jamilah, pada masanya beliau adalah penyanyi dangdut populer di kampung saya.




Lantas darimana semua biaya pesta rakyat itu berasal? Para caleg lokal pasti tak keberatan menggelontorkan pundi-pundi rupiahnya demi acara ini. Harus patungan dan fair jumlahnya, biar tak ada isu membeli suara.

Hohoho inilah pesta rakyat yang ideal menurut saya..



Tulisan ini dibuat oleh saya yang hobi makan kambing guling tapi selalu pusing kalo porsinya lebih dari sepiring, saya yang ngefans sama teteh Jamilah, namun sudah tak mendengar lagi kabarnya sejak beliau merintis karir keartisan di ibukota, saya yang belum tahu akan memilih apa dimana besok..


24.3.09

Berteman Nyaman

Sebuah percakapan di telepon antara CICI & CACA (bukan nama sebenarnya (walau ini kisah nyata)).

"Ehm, aku mau cerita sesuatu. Ini tentang aku dan kamu."
CICI pun membuka pembicaraan.

"Yes babe, tell me about it."
CACA mulai menyimak serius.

"Semalam... aku mimpi. Tentang kita."

"Ya..."
Walau terdengar tenang, tapi CACA mulai deg2an.

"Iya, aku mimpi. Kita berdua mandi bareng di bawah pancuran."

"Apa???"
Bayangkan adegan sinetron dimana kamera zoom-in berkali-kali wajah CACA yang terkejut ataupun wajah CICI yang tersipu salah tingkah di seberang sana.

CACA dan CICI berteman sudah lama. Minimal seminggu sekali mereka bertemu dalam suasana yang akrab dan riang. Saling cela, saling goda, saling puji, saling caci.

CACA tahu bahwa CICI tahu bahwa hubungan mereka sebatas teman baik. Tak ada intensi lebih untuk hubungan yang lebih intim.

Tetapi, mimpi mandi bersama dibawah pancuran?

CACA tak tahu harus berkata apa selain ini:
"Mmmh, mandinya pake baju?"

Terdengar tawa CICI di seberang sana.
"Ingat adegan mandi Sarah & Rahma Azhari & temen cowoknya? Ya kayak gitu!"
tukasnya lugas.
"Eh tapi..."

"Apa lagi???"
Kembali kamera meng-zoom-in berulang-ulang wajah CACA dan CICI.

"Anu... aku kok gak lihat anu-mu ya..."

Gubrak!

HUahaha, CACA lega karena aset berharganya ternyata tidak muncul di impian CICI. Di lain pihak, CACA merasa ego kelelakiannya terusik karena 'masa sih gak ada tonjolan yang tampak? sama sekali?'

Temans, dalam hubungan pertemanan, murni berteman, risih gak sih jika membayangkan kita saling bugil mandi bersama?

Tapi, lebih risih lagi gak sih kalau teman kita bilang tak bisa melihat kelamin kita saat mandi walau cuma dalam mimpi?

Akhirnya cuma kalimat ini yang keluar dari mulut CACA,
"Ya namanya aurat kan gak boleh diumbar..."

CICI terkekeh.
"Btw, arti mimpi ini apa ya? Sumpah aku ga pernah punya pikiran cabul sama kamu."

"Hati kecil ga bisa bohong lho..."
goda CACA.
"Overall, mungkin saja ini pertanda kalau kita sudah merasa nyaman satu sama lain."

"Dengan kata lain, berteman nyaman ya. Kita sudah tak sungkan tuk membuka diri."
CICI cepat menyimpulkan.
"Hmmm, jadi kapan kita mandi bareng lagi?"


CACA dan CICI tergelak.

"Btw, di mimpimu itu, apakah anumu kelihatan olehku?"
CACA penasaran. Kadung basah nyemplung sekalian deh.

CICI tertawa penuh kemenangan.
"Ya nggak dong, aku kan pake celana dalam sewarna kulit!"

Gubrak lagi!

CICI curang!

CICI curang!
CICI curang!

9.2.09

Asmara Dua Dunia

lelaki itu bertanggung jawab
membina kehidupan berkeluarga sejak usia muda

lelaki itu bertanggung jawab
ketika bersedia menikahi selingkuhannya yang keburu hamil

lelaki itu bertanggung jawab
dengan menafkahi dua istri, seorang putra, dan janin dalam kandungan

...

semoga tanggung jawabnya ke depan tiada yang harus dipertanggungjawabkan lagi

...

*i happen to see this fact because i know him, his wife, his son, and his new sexy wife*

23.1.09

Where Art Thou, Sandal?

Usai ibadah Jumat, doa-doa masih berkumandang, harum minyak wangi masih semerbak, ketika di antara kerumunan orang-orang yang hendak keluar masjid terdengar umpatan:
"Sendal gw kemana nih? Sialan! Ngepet!"


Satu: saya prihatin kenapa ada orang memaki-maki semudah itu pada saat suasana masih sakral begini. Bisa jadi sandalnya tertumpuk sandal lain atau terseret arus langkah orang-orang yang keluar masjid.

Dua: saya malah tersenyum sendiri membayangkan ada babi ngepet nyolong sandal jepit di masjid.



16.12.08

Budak Malam

Sudah beberapa kali saat pulang larut dari ibukota, kami menjumpai sekeluarga pengamen di dalam bis AKAP. Mereka terdiri dari bapak, ibu, dan tiga orang anak yang masih balita.

Lihatlah sang bapak, bertugas menyanyi sambil menggendong si anak tengah. Suaranya tiada merdu pun tubuhnya layu. Gitar tua tak ubahnya istri muda yang lebih berkurva, mendawaikan nada sumbang namun lebih berima.

Lihatlah sang ibu, bertugas mengumpulkan tips hasil ngamen sang bapak. Si sulung yang rewel digandengnya, sementara si bayi terlelap dalam gendongan. Saya yakin susu sang ibu sudah kerontang. Mungkin si bayi pura-pura tidur agar tidak dipaksa menetek puting yang kering.

Lalu balon-balon percakapan pun muncul mewadahi imajinasi kami yang melebihi kuota. Tentang mengapa mereka sekeluarga masih mencari nafkah sampai selarut ini.


"Homeless. Mungkin masih menumpang tidur di suatu tempat, di warung bubur kacang ijo misalnya. Dan mereka baru bisa datang setelah warung itu tutup, mungkin selepas tengah malam. Dan esok sebelum warung buka, mereka sudah harus kembali mencari nafkah di jalan. Sekeluarga."


"Gak lah, sepertinya lebih ke krisis kepercayaan. Mereka mungkin sudah punya rumah walau cuma gubuk derita. Sang istri cuma kuatir jikalau suaminya menggunakan uang hasil ngamen untuk mabuk atau apalah. Mungkin dulu pernah kejadian begitu, makanya kini sang istri berkeras untuk ikut ngamen, sekalian bawa anak-anak biar memancing belas kasihan."


Dan kami memang iba.

Sudah hampir tengah malam ketika bis yang kami tumpangi mendekati tujuan. Balon-balon kami tadi pun sudah mengawang entah kemana. Kami tak peduli. Yang ada di benak hanya istirahat di ranjang empuk dan nyaman.

Entah bagaimana keluarga pengamen itu menyudahi harinya.


*gambar diunduh di sini

1.12.08

Curhat Tingkat Tinggi

Tahukah anda, Presiden Rusia tengah dalam kemelut. Hati nuraninya tercabik antara kepentingan negara dan perdamaian dunia. Sebuah keputusan penting harus diambil, dan baru kali ini beliau sungguh mati langkah.

Di tengah kegalauannya, beliau menghubungi sebuah nomor telepon ke negeri seberang nun jauh di sana.

"Halo?" terdengar sahutan.

Presiden tersenyum lega. "Halo, boleh kuminta saranmu? Seperti kau tahu, menteri pertahanan sudah siap menginvasi pulau yang baru ditemukan di Segitiga Bermuda. Memang pulau ini akan menjadi tambang emas hitam yang sangat berharga bagi kami, namun di sisi lain saya pribadi tidak mau menyulut pertikaian dengan dunia barat, apalagi sampai memicu World War III. Menurutmu bagaimana? Please help me out!"

Hening sejenak.
"Listen to your heart. When there's nothing else you can do, listen to your heart."

Presiden termenung, menyesapi kalimat bijak itu dalam benaknya. Sebuah senyum lega tersungging di wajahnya. "Ah, terima kasih!"

Hubungan telepon pun ditutup.

Aku meletakkan ponsel dengan jumawa. Tak menyangka jika beliau berkenan curhat padaku. Lega karena kini kutahu presiden Rusia sudah menemukan jawabnya.

Sungguh mimpi yang aneh.




5.11.08

Rekat Pekat

Dan ketika gulita memerangkapku dalam sunyi
rinai hujan menyisakan gerimis rintik
angin malam menghembuskan dingin dan birahi
gemercik kolam depan kamar berbaur dengan nyanyi kodok dan jangkrik

Dan dalam gelap inilah sunyiku menjadi pekak
guling di kepala bantal di kaki
selimut cuma jadi alas ponsel dan kabel terserak
benakku penuh dan pekat


a zillion KISSes | pekerjaan yang tak pernah usai | posting album foto yang tak pernah usai | berita mutilasi, pilkada, dan eksekusi yang tak pernah usai | sebuah PELUK yang
tak pernah usai | umroh & jodoh | mamah dedeh | bali lantai 2 | SHAKE your love by debbie gibson | total tagihan | sms2 yang tak pernah sampai | i need paracetamol and diclofenac sodium | hold me THRILL me kiss me kill me by U2 | konsep photo session berikutnya | sapi, kura-kura, dan pangeran kodok | LICK me dibaca likmi | apa kabar nisrina nur ubay | belum bebenah kamar | laskar sushi | SUCK & FUCK | 100 cm = 1 m, wow | porno hitam | bayi gurita & bayi berambut jabrik | .....

Dan ketika jasad terbuai dan arwah mengambang
aku pun menggenggam diam
asaku bersemayam pada bulan bintang di balik awan
agar kau bisa mengambilnya esok malam