Usai ibadah Jumat, doa-doa masih berkumandang, harum minyak wangi masih semerbak, ketika di antara kerumunan orang-orang yang hendak keluar masjid terdengar umpatan:
"Sendal gw kemana nih? Sialan! Ngepet!"
Satu: saya prihatin kenapa ada orang memaki-maki semudah itu pada saat suasana masih sakral begini. Bisa jadi sandalnya tertumpuk sandal lain atau terseret arus langkah orang-orang yang keluar masjid.
Dua: saya malah tersenyum sendiri membayangkan ada babi ngepet nyolong sandal jepit di masjid.

A sufi once asks:
If Satan was forbidden from the garden of Eden, how did he manage to come back and make Adam & Eve eat the forbidden fruit?
...
I believe only God knows.
Sudah beberapa kali saat pulang larut dari ibukota, kami menjumpai sekeluarga pengamen di dalam bis AKAP. Mereka terdiri dari bapak, ibu, dan tiga orang anak yang masih balita.
Lihatlah sang bapak, bertugas menyanyi sambil menggendong si anak tengah. Suaranya tiada merdu pun tubuhnya layu. Gitar tua tak ubahnya istri muda yang lebih berkurva, mendawaikan nada sumbang namun lebih berima.
Lihatlah sang ibu, bertugas mengumpulkan tips hasil ngamen sang bapak. Si sulung yang rewel digandengnya, sementara si bayi terlelap dalam gendongan. Saya yakin susu sang ibu sudah kerontang. Mungkin si bayi pura-pura tidur agar tidak dipaksa menetek puting yang kering.
Lalu balon-balon percakapan pun muncul mewadahi imajinasi kami yang melebihi kuota. Tentang mengapa mereka sekeluarga masih mencari nafkah sampai selarut ini.
"Homeless. Mungkin masih menumpang tidur di suatu tempat, di warung bubur kacang ijo misalnya. Dan mereka baru bisa datang setelah warung itu tutup, mungkin selepas tengah malam. Dan esok sebelum warung buka, mereka sudah harus kembali mencari nafkah di jalan. Sekeluarga."
"Gak lah, sepertinya lebih ke krisis kepercayaan. Mereka mungkin sudah punya rumah walau cuma gubuk derita. Sang istri cuma kuatir jikalau suaminya menggunakan uang hasil ngamen untuk mabuk atau apalah. Mungkin dulu pernah kejadian begitu, makanya kini sang istri berkeras untuk ikut ngamen, sekalian bawa anak-anak biar memancing belas kasihan."
Dan kami memang iba.
Sudah hampir tengah malam ketika bis yang kami tumpangi mendekati tujuan. Balon-balon kami tadi pun sudah mengawang entah kemana. Kami tak peduli. Yang ada di benak hanya istirahat di ranjang empuk dan nyaman.
Entah bagaimana keluarga pengamen itu menyudahi harinya.
*gambar diunduh di sini
Tahukah anda, Presiden Rusia tengah dalam kemelut. Hati nuraninya tercabik antara kepentingan negara dan perdamaian dunia. Sebuah keputusan penting harus diambil, dan baru kali ini beliau sungguh mati langkah.Di tengah kegalauannya, beliau menghubungi sebuah nomor telepon ke negeri seberang nun jauh di sana."Halo?" terdengar sahutan.Presiden tersenyum lega. "Halo, boleh kuminta saranmu? Seperti kau tahu, menteri pertahanan sudah siap menginvasi pulau yang baru ditemukan di Segitiga Bermuda. Memang pulau ini akan menjadi tambang emas hitam yang sangat berharga bagi kami, namun di sisi lain saya pribadi tidak mau menyulut pertikaian dengan dunia barat, apalagi sampai memicu World War III. Menurutmu bagaimana? Please help me out!"Hening sejenak."Listen to your heart. When there's nothing else you can do, listen to your heart."Presiden termenung, menyesapi kalimat bijak itu dalam benaknya. Sebuah senyum lega tersungging di wajahnya. "Ah, terima kasih!"Hubungan telepon pun ditutup.Aku meletakkan ponsel dengan jumawa. Tak menyangka jika beliau berkenan curhat padaku. Lega karena kini kutahu presiden Rusia sudah menemukan jawabnya.Sungguh mimpi yang aneh.
Suatu hari minggu laluRuang makan di saat Maghrib belum terganti Isya. Televisi menyiarkan sinetron. Seorang wanita dengan make up komplit tengah menganiaya seorang wanita berjilbab yang ber-make up komplit juga. "KAMU MAU AKU MAMPUSIN DIA AJA SEKALIAN? BIAR AKU GOROK AJA LEHERNYA!"
Inset iklan. Ada juga sisipan tayangan sinetron yang akan datang. Seorang pelajar putri yang menaruh iri dengki dendam kesumat kepada seorang teman sekolahnya."POKOKNYA MAMA HARUS BANTU AKU NGANCURIN SI KASIH!"*istighfar*KemarinRuang makan di saat Maghrib belum terganti Isya. Televisi menyiarkan sinetron. Seorang wanita dengan make up komplit tengah menganiaya seorang wanita berjilbab yang ber-make up komplit juga. "DIAM! JANGAN BERGERAK! ATAU AKU GOROK LEHER KAMU SEKALIAN!"
Inset iklan. Ada juga sisipan tayangan sinetron yang akan datang. Seorang pelajar putri yang menaruh iri dengki dendam kesumat kepada seorang teman sekolahnya. "POKOKNYA MAMA HARUS BANTU AKU NGANCURIN SI KASIH!" *istighfar*
Esok dan esok mungkin ritmenya akan terus sama. Bahaya laten sedang menggorok mental anak-anak Indonesia belia yang seharusnya disuguhi tontonan berkualitas penuh damai dan keceriaan. Camkan itu!
Dan ketika gulita memerangkapku dalam sunyi
rinai hujan menyisakan gerimis rintik
angin malam menghembuskan dingin dan birahi
gemercik kolam depan kamar berbaur dengan nyanyi kodok dan jangkrik
Dan dalam gelap inilah sunyiku menjadi pekak
guling di kepala bantal di kaki
selimut cuma jadi alas ponsel dan kabel terserak
benakku penuh dan pekata zillion KISSes | pekerjaan yang tak pernah usai | posting album foto yang tak pernah usai | berita mutilasi, pilkada, dan eksekusi yang tak pernah usai | sebuah PELUK yang tak pernah usai | umroh & jodoh | mamah dedeh | bali lantai 2 | SHAKE your love by debbie gibson | total tagihan | sms2 yang tak pernah sampai | i need paracetamol and diclofenac sodium | hold me THRILL me kiss me kill me by U2 | konsep photo session berikutnya | sapi, kura-kura, dan pangeran kodok | LICK me dibaca likmi | apa kabar nisrina nur ubay | belum bebenah kamar | laskar sushi | SUCK & FUCK | 100 cm = 1 m, wow | porno hitam | bayi gurita & bayi berambut jabrik | ..... Dan ketika jasad terbuai dan arwah mengambang
aku pun menggenggam diam
asaku bersemayam pada bulan bintang di balik awan
agar kau bisa mengambilnya esok malam
bulan baru
lokasi baru
suasana baru
meja kerja baru
*semoga hari2 ke depan lebih cerah menanti. argh, sementara rekan di ruangan baru ini sudah sok akrab sejak pagi. apa auraku begitu eskotik ya? :)*