8.4.09

Pesta Rakyat, Teteh Jamilah, dan Kambing Guling

Waktu kecil, suasana kebersamaan antar warga di kampung saya terasa kental sekali. Saya masih ingat sewaktu pembangunan jembatan desa, semua warga turun bergotong royong. Pria wanita tua muda.

Saya masih ingat harum gembur tanah basah yang sedang dicangkul oleh pak Hasan, hansip desa, bersama kaum pria lainnya. Saya masih ingat teteh Jamilah, anak pak RT yang putih semok itu berkebaya cantik sekali, menyiapkan hidangan prasmanan bersama kaum wanita yang lain. Saya masih ingat alunan degung Sunda bergaung di segala penjuru.

Ketika tiba waktu makan siang, kami pun berduyun-duyun menuju meja prasmanan. Teteh Jamilah yang melayani kami. Saya terkagum-kagum akan kemolekannya. Kulitnya mulus bak porselen. Ia wangi bagai ronce melati.

Bagi kami, menu makanan yang sederhana terasa nikmat sahaja karena suasana hati yang sedang ceria. Pria wanita tua muda larut dalam senda gurau. Akrab penuh kekeluargaan.

That was then.

Namun bagi saya, itulah pesta rakyat yang sebenarnya.

Hari ini beberapa rekan sekantor sudah menyiapkan diri tuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Esok kan Pemilu. Pesta demokrasi, pesta rakyat. Dulu coblos sekarang contreng.

Dari obrolan ngalor ngidul terbersitlah definisi pesta rakyat menurut saya:
 
1. TPS tak perlu mewah tak perlu megah, tapi bersahaja dan jumawa ;p Seperti halnya dulu rakyat kerap berlomba bikin gapura semeriah mungkin, ada baiknya TPS pun dibuat cantik, biar ada kebanggan para pemilih yang nyontreng di sana. Biar jadi ajang narsis pepotoan juga, wkkk.. :)

2. Nomor KTP valid berlaku satu kali contreng. Database KPU harus sudah online, jadi siapapun dimanapun cukup menunjukkan KTPnya, petugas tinggal memasukkan nomornya ke database, voila! "Silakan pak, bu, disana bilik suaranya".

3. Sambil menunggu giliran, pemilih bisa mendapatkan cemilan ringan dan minuman gratis. Alunan musik yang menenangkan dapat diputar supaya pemilih lebih rileks dan tidak tegang sebelum menyontreng.

4. Usai nyontreng, pemilih mendapatkan kupon makan, tuk mendapatkan menu spesial pesta rakyat: KAMBING GULING!

Buat mereka yang tidak makan kambing/tidak sempat antri, bisa menukarkan kupon makan resmi ini sebagai kartu diskon di franchise restoran terkemuka di mall2 terdekat.

5. Sambil menikmati kambing guling, TPS pun dihibur oleh live music. Pengisi acara cukup band dan artis lokal saja.

Ingatan saya kembali beralih pada teteh Jamilah, pada masanya beliau adalah penyanyi dangdut populer di kampung saya.




Lantas darimana semua biaya pesta rakyat itu berasal? Para caleg lokal pasti tak keberatan menggelontorkan pundi-pundi rupiahnya demi acara ini. Harus patungan dan fair jumlahnya, biar tak ada isu membeli suara.

Hohoho inilah pesta rakyat yang ideal menurut saya..



Tulisan ini dibuat oleh saya yang hobi makan kambing guling tapi selalu pusing kalo porsinya lebih dari sepiring, saya yang ngefans sama teteh Jamilah, namun sudah tak mendengar lagi kabarnya sejak beliau merintis karir keartisan di ibukota, saya yang belum tahu akan memilih apa dimana besok..


24.3.09

Berteman Nyaman

Sebuah percakapan di telepon antara CICI & CACA (bukan nama sebenarnya (walau ini kisah nyata)).

"Ehm, aku mau cerita sesuatu. Ini tentang aku dan kamu."
CICI pun membuka pembicaraan.

"Yes babe, tell me about it."
CACA mulai menyimak serius.

"Semalam... aku mimpi. Tentang kita."

"Ya..."
Walau terdengar tenang, tapi CACA mulai deg2an.

"Iya, aku mimpi. Kita berdua mandi bareng di bawah pancuran."

"Apa???"
Bayangkan adegan sinetron dimana kamera zoom-in berkali-kali wajah CACA yang terkejut ataupun wajah CICI yang tersipu salah tingkah di seberang sana.

CACA dan CICI berteman sudah lama. Minimal seminggu sekali mereka bertemu dalam suasana yang akrab dan riang. Saling cela, saling goda, saling puji, saling caci.

CACA tahu bahwa CICI tahu bahwa hubungan mereka sebatas teman baik. Tak ada intensi lebih untuk hubungan yang lebih intim.

Tetapi, mimpi mandi bersama dibawah pancuran?

CACA tak tahu harus berkata apa selain ini:
"Mmmh, mandinya pake baju?"

Terdengar tawa CICI di seberang sana.
"Ingat adegan mandi Sarah & Rahma Azhari & temen cowoknya? Ya kayak gitu!"
tukasnya lugas.
"Eh tapi..."

"Apa lagi???"
Kembali kamera meng-zoom-in berulang-ulang wajah CACA dan CICI.

"Anu... aku kok gak lihat anu-mu ya..."

Gubrak!

HUahaha, CACA lega karena aset berharganya ternyata tidak muncul di impian CICI. Di lain pihak, CACA merasa ego kelelakiannya terusik karena 'masa sih gak ada tonjolan yang tampak? sama sekali?'

Temans, dalam hubungan pertemanan, murni berteman, risih gak sih jika membayangkan kita saling bugil mandi bersama?

Tapi, lebih risih lagi gak sih kalau teman kita bilang tak bisa melihat kelamin kita saat mandi walau cuma dalam mimpi?

Akhirnya cuma kalimat ini yang keluar dari mulut CACA,
"Ya namanya aurat kan gak boleh diumbar..."

CICI terkekeh.
"Btw, arti mimpi ini apa ya? Sumpah aku ga pernah punya pikiran cabul sama kamu."

"Hati kecil ga bisa bohong lho..."
goda CACA.
"Overall, mungkin saja ini pertanda kalau kita sudah merasa nyaman satu sama lain."

"Dengan kata lain, berteman nyaman ya. Kita sudah tak sungkan tuk membuka diri."
CICI cepat menyimpulkan.
"Hmmm, jadi kapan kita mandi bareng lagi?"


CACA dan CICI tergelak.

"Btw, di mimpimu itu, apakah anumu kelihatan olehku?"
CACA penasaran. Kadung basah nyemplung sekalian deh.

CICI tertawa penuh kemenangan.
"Ya nggak dong, aku kan pake celana dalam sewarna kulit!"

Gubrak lagi!

CICI curang!

CICI curang!
CICI curang!

9.2.09

Asmara Dua Dunia

lelaki itu bertanggung jawab
membina kehidupan berkeluarga sejak usia muda

lelaki itu bertanggung jawab
ketika bersedia menikahi selingkuhannya yang keburu hamil

lelaki itu bertanggung jawab
dengan menafkahi dua istri, seorang putra, dan janin dalam kandungan

...

semoga tanggung jawabnya ke depan tiada yang harus dipertanggungjawabkan lagi

...

*i happen to see this fact because i know him, his wife, his son, and his new sexy wife*

23.1.09

Where Art Thou, Sandal?

Usai ibadah Jumat, doa-doa masih berkumandang, harum minyak wangi masih semerbak, ketika di antara kerumunan orang-orang yang hendak keluar masjid terdengar umpatan:
"Sendal gw kemana nih? Sialan! Ngepet!"


Satu: saya prihatin kenapa ada orang memaki-maki semudah itu pada saat suasana masih sakral begini. Bisa jadi sandalnya tertumpuk sandal lain atau terseret arus langkah orang-orang yang keluar masjid.

Dua: saya malah tersenyum sendiri membayangkan ada babi ngepet nyolong sandal jepit di masjid.



21.1.09

One Essential Matter

A sufi once asks:
If Satan was forbidden from the garden of Eden, how did he manage to come back and make Adam & Eve eat the forbidden fruit?

...

I believe only God knows. 

16.12.08

Budak Malam

Sudah beberapa kali saat pulang larut dari ibukota, kami menjumpai sekeluarga pengamen di dalam bis AKAP. Mereka terdiri dari bapak, ibu, dan tiga orang anak yang masih balita.

Lihatlah sang bapak, bertugas menyanyi sambil menggendong si anak tengah. Suaranya tiada merdu pun tubuhnya layu. Gitar tua tak ubahnya istri muda yang lebih berkurva, mendawaikan nada sumbang namun lebih berima.

Lihatlah sang ibu, bertugas mengumpulkan tips hasil ngamen sang bapak. Si sulung yang rewel digandengnya, sementara si bayi terlelap dalam gendongan. Saya yakin susu sang ibu sudah kerontang. Mungkin si bayi pura-pura tidur agar tidak dipaksa menetek puting yang kering.

Lalu balon-balon percakapan pun muncul mewadahi imajinasi kami yang melebihi kuota. Tentang mengapa mereka sekeluarga masih mencari nafkah sampai selarut ini.


"Homeless. Mungkin masih menumpang tidur di suatu tempat, di warung bubur kacang ijo misalnya. Dan mereka baru bisa datang setelah warung itu tutup, mungkin selepas tengah malam. Dan esok sebelum warung buka, mereka sudah harus kembali mencari nafkah di jalan. Sekeluarga."


"Gak lah, sepertinya lebih ke krisis kepercayaan. Mereka mungkin sudah punya rumah walau cuma gubuk derita. Sang istri cuma kuatir jikalau suaminya menggunakan uang hasil ngamen untuk mabuk atau apalah. Mungkin dulu pernah kejadian begitu, makanya kini sang istri berkeras untuk ikut ngamen, sekalian bawa anak-anak biar memancing belas kasihan."


Dan kami memang iba.

Sudah hampir tengah malam ketika bis yang kami tumpangi mendekati tujuan. Balon-balon kami tadi pun sudah mengawang entah kemana. Kami tak peduli. Yang ada di benak hanya istirahat di ranjang empuk dan nyaman.

Entah bagaimana keluarga pengamen itu menyudahi harinya.


*gambar diunduh di sini

1.12.08

Curhat Tingkat Tinggi

Tahukah anda, Presiden Rusia tengah dalam kemelut. Hati nuraninya tercabik antara kepentingan negara dan perdamaian dunia. Sebuah keputusan penting harus diambil, dan baru kali ini beliau sungguh mati langkah.

Di tengah kegalauannya, beliau menghubungi sebuah nomor telepon ke negeri seberang nun jauh di sana.

"Halo?" terdengar sahutan.

Presiden tersenyum lega. "Halo, boleh kuminta saranmu? Seperti kau tahu, menteri pertahanan sudah siap menginvasi pulau yang baru ditemukan di Segitiga Bermuda. Memang pulau ini akan menjadi tambang emas hitam yang sangat berharga bagi kami, namun di sisi lain saya pribadi tidak mau menyulut pertikaian dengan dunia barat, apalagi sampai memicu World War III. Menurutmu bagaimana? Please help me out!"

Hening sejenak.
"Listen to your heart. When there's nothing else you can do, listen to your heart."

Presiden termenung, menyesapi kalimat bijak itu dalam benaknya. Sebuah senyum lega tersungging di wajahnya. "Ah, terima kasih!"

Hubungan telepon pun ditutup.

Aku meletakkan ponsel dengan jumawa. Tak menyangka jika beliau berkenan curhat padaku. Lega karena kini kutahu presiden Rusia sudah menemukan jawabnya.

Sungguh mimpi yang aneh.